PT ABC adalah sebuah perusahaan kontruksi yang memiliki banyak aset non
operasional namun tidak dikelola dengan baik sehingga menyebabkan aset
tersebut tidak produktif. Adapun berdasarkan data internal perusahaan, dari total
valuasi aset non operasional tersebut di masa kini senilai RP 51,777,500,000
perusahaan hanya mampu mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp
1,610,000,000 per tahun. Hal ini mencerminkan tingkat pengembalian aset
(Return on Asset) yang masih rendah yaitu sebesar 3,1% masih jauh dari bawah
target strategi perusahaan sebesar >8% dan rata-rata imbal hasil instrumen
bebas risiko. Akibat dari kondisi aset yang menganggur dan tidak produktif ini
menciptakan biaya peluang opportunity cost yang signifikan, yang seharusnya
dapat membantu perusahaan inti untuk mengurangi tingginya nilai Break Even
Point (BEP) karena ketidakpastian penjualan yang berhubungan kuat dengan
makro ekonomi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kategori aset mana saja yang
tidak produktif, merumuskan skenario yang terbaik yang bisa dilakukan, dan
mengukur dampak strategi tersebut terhadap peningkatan kinerja keuangan
perusahaan terutama Return on Asset (ROA). Penelitian ini menggunakan
pendekatan metode campuran (mixed-methods), yang menggabungkan penilaian
risiko kualitatif dari Focus Group Discussion dengan pemodelan keuangan
kuantitatif. Decision Tree Analysis diterapkan sebagai instrumen utama untuk
menghitung Expected Monetary Value (EMV) dari semua kemungkinan skenario
yang diputuskan.
Melalui simulasi model Decision Tree yang dilakukan, disimpulkan beberapa
portofolio yang dapat management pilih, baik itu scenario aggressive, defensive,
optimal. Adapun scenario terbaik yang dipilih oleh management yaitu scenario
optimal dan dapat meningkatkan pendapatan tahunan agregat menjadi Rp
~12,120,000,000 dan mencapai agregat ROA sebesar ~10.60% dengan eksekusi
secara bertahap berdasarkan prioritas.
Perpustakaan Digital ITB