digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bandung adalah salah satu kota yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi. Hal ini sudah terbukti dari diajukannya Bandung menjadi kota kreatif oleh Indonesia ke UNESCO pada tahun 2012. Salah satu kreativitas yang dipunyai Bandung ada pada musik. Banyak konser - konser yang diselenggarakan di Bandung, juga banyak musisi Indonesia yang sebagian besar berasal dari Bandung. Karena hal tersebut, Bandung juga disebut - sebut sebagai barometer musik Indonesia. Namun sayangnya, perkembangan musik yang terjadi ini, tidak terekam dengan baik sehingga banyak masyarakat yang tidak tahu tentang hal tersebut. Masyarakat juga mulai melupakan musik - musik tradisional seiring dengan banyaknya musik dari mancanegara. Museum Musik Bandung ini akan menjawab permasalahan tersebut dengan menampilkan koleksi – koleksi per tema ruang pamer yang terdiri dari ruang pamer musik tradisional, musik keroncong dan perjuangan serta musik populer. Lokasi perancangan terletak di Jalan Braga, yang mana adalah kawasan bersejarah di Kota Bandung. Lokasi ini dipilih karena menurut RTRW Bandung, kawasan Braga diperuntukkan oleh museum. Selain itu, karena kondisi bangunan bersejarah di Braga banyak yang dalam kondisi memprihatinkan, proyek ini mengupayakan untuk merevitalisasi gedung bersejarah sebagai upaya untuk menyelamatkan kawasan bersejarah Braga dengan fungsi yang disesuaikan (adaptive reuse). Lokasi perancangan mempunyai dua gedung bersejarah yaitu Gedung Sarinah dan Hotel Braga. Namun, signifikansi Sarinah ternyata lebih besar dibandingkan dengan Hotel Braga, karena Sarinah memiliki keterkaitan dengan Gedung Au Bon Marche yang ada di depannya. Oleh karena itu, gedung Sarinah akan dipertahankan dan Hotel Braga akan diasumsikan di hancurkan untuk memenuhi kebutuhan fungsi yang diperlukan yaitu museum, auditorium, studio musik, perpustakaan dan kafe. Dengan konsep Simpul Simbiosis, Museum Musik Bandung akan membawa spirit dari Jalan Braga dan komunitas – komunitas musik di Bandung, yaitu berkumpul. Konsep simpul lebih ditekankan pada ruang luar, yaitu pada adanya panggung untuk kebutuhan ruang publik bagi masyarakat, komunitas ataupun musisi untuk bertukar pikiran. Hal ini diimplementasikan untuk memaksimalkan lahan yang berada didaerah padat yang membutuhkan banyak ruang terbuka agar ruang tidak terasa sempit dan menekan. Dengan adanya interaksi antara mereka, diharapkan adanya simbiosis yang bisa menghasilkan manfaat bagi satu sama lain, berupa karya ataupun ide - ide sebagai simbiosis. Simbiosis juga terjadi pada bangunan museum. Pendekatan yang digunakan adalah contextual continuity, dimana bangunan memiliki tampilan visual yang kontras, namun tetap membawa ciri khas bangunan sekitar.