Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) memiliki peran strategis sebagai agen
pembangunan daerah sekaligus entitas bisnis berorientasi laba. BUMD Non
Lembaga Keuangan di Provinsi Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan
pengelolaan yang belum optimal serta tuntutan pembangunan berkelanjutan yang
mendesak. Sistem pengukuran kinerja formal BUMD yang berlaku saat ini masih
berorientasi pada aspek keuangan, dan belum secara seimbang mengakomodasi
aspek non-keuangan, termasuk aspek keberlanjutan. Evaluasi kinerja melalui
pendekatan Sustainability Balanced Scorecard (SBSC) menjadi salah satu solusi
penting untuk mendorong kinerja BUMD secara berkelanjutan. Penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh model evaluasi kinerja berbasis SBSC dan
menerapkan model tersebut pada studi kasus BUMD Non-Lembaga Keuangan
untuk menganalisis keterkaitannya terhadap kinerja BUMD. Penelitian ini
menggunakan data berupa laporan tahunan pada 5 BUMD Non-Lembaga
Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat periode 2018-2024. Melalui content
analysis, penilaian implementasi SBSC yang diungkapkan dalam laporan tahunan
dilakukan oleh Peneliti dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya
dalam memproses seluruh dokumen pengamatan. Proses tersebut berpedoman pada
codebook yang telah teruji keandalannya dengan penilai independen lainnya
dengan nilai Krippendorff’s Alpha sebesar 0.810 untuk mencegah bias subjektivitas
dan menjaga konsistensi penilaian. Sementara itu, variabel kinerja keuangan dan
non-keuangan dinilai menggunakan skor komposit yang bersumber dari data aktual
capaian BUMD pada laporan tahunan tersebut. Pengolahan data dilakukan dengan
metode regresi data panel menggunakan perangkat lunak STATA 19.
Hasil pengujian menunjukkan model ini dapat diterapkan dengan baik, yang
mengindikasikan bahwa pengelolaan pelanggan, proses internal, dan inisiatif sosial
berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pada periode berikutnya, sementara
tata kelola perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja non-keuangan.
Sebaliknya, pengelolaan lingkungan menunjukkan pengaruh negatif terhadap
kinerja keuangan, mengindikasikan adanya trade-off yang perlu dievaluasi secara
proporsional sesuai kemampuan BUMD. Sebagai implikasi praktis, temuan ini
memberikan masukan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk
mempertimbangkan perluasan instrumen evaluasi kinerja formal BUMD dengan
aspek non-keuangan yang memiliki pengaruh signifikan, serta mendorong BUMD
untuk melaporkan proses pelaksanaan aktivitas secara lebih akurat dan presisi guna
mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, model ini dapat
diimplementasikan pada BUMD lainnya melalui penilaian independen berpedoman
codebook untuk mengidentifikasi area of improvement secara objektif.
Perpustakaan Digital ITB