digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri logistik dan freight forwarding memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perdagangan Indonesia, keandalan rantai pasok, dan daya saing bisnis berbasis pelabuhan. Dalam konteks tersebut, PT Indo Samudera Perkasa (ISP), perusahaan freight forwarding dan customs brokerage yang berlokasi di Semarang, sangat bergantung pada ketelitian, kecepatan respons, dan kemampuan pemecahan masalah karyawannya. Sebagai organisasi jasa dengan struktur yang ramping, ISP menghadapi tantangan sumber daya manusia yang bersifat praktis, yaitu keberlanjutan layanan masih sangat bergantung pada karyawan berpengalaman, koordinasi informal, dan budaya kerja yang bersifat kekeluargaan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji bagaimana keselarasan antara nilai-nilai pribadi karyawan dan persepsi budaya organisasi berhubungan dengan motivasi kerja dan kinerja karyawan di PT Indo Samudera Perkasa, serta untuk mengidentifikasi kondisi organisasi di balik kegagalan operasional perusahaan yang berulang. Penelitian ini menggunakan desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei sensus terhadap 18 karyawan ISP dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur nilai pribadi, persepsi budaya organisasi, kesesuaian nilai-budaya, motivasi kerja, dan kinerja karyawan berdasarkan penilaian diri. Data kuantitatif dianalisis melalui uji reliabilitas, statistik deskriptif, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, regresi berganda, dan analisis mediasi eksploratif. Tahap kualitatif kemudian dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan lima informan kunci yang mewakili fungsi operations, import, finance, dan human resources. Data wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik, dengan pengkodean terbuka, aksial, dan selektif diterapkan sebagai teknik pengkodean dalam kerangka kerja tersebut, bukan sebagai desain teori dasar. Karena populasi hanya terdiri dari 18 karyawan, fase kuantitatif diperlakukan sebagai penilaian internal eksploratif dan bukan sebagai pengujian hubungan sebab-akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan ISP memiliki nilai Conservation dan Self-Transcendence yang kuat, yang tercermin dalam tanggung jawab, kedisiplinan, ketelitian, keselamatan, loyalitas, dan kesediaan untuk membantu rekan kerja. Karyawan juga memersepsikan budaya ISP sebagai budaya yang kekeluargaan, fleksibel, saling mendukung, dan responsif, meskipun masih bergantung pada keputusan pimpinan dan koordinasi informal. Secara kuantitatif, kesesuaian nilai-budaya memiliki hubungan positif dengan motivasi kerja dan kinerja karyawan, sedangkan motivasi kerja menunjukkan hubungan langsung yang paling kuat dengan kinerja karyawan. Berdasarkan analisis mediasi eksploratif, motivasi kerja tampaknya menjelaskan sebagian besar hubungan antara kesesuaian nilai-budaya dan kinerja karyawan, meskipun jalur tidak langsung tidak diuji secara formal dan oleh karena itu hasilnya bersifat eksploratif dan bukan konfirmatif. Temuan kualitatif memperkuat pola tersebut dengan menunjukkan bahwa karyawan merasa nyaman, dipercaya, dan didukung secara sosial, sehingga lebih termotivasi untuk mengambil inisiatif, menyelesaikan masalah operasional, dan menjaga kelancaran layanan. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa kesenjangan organisasi. Budaya kekeluargaan di ISP mendukung kenyamanan dan loyalitas, tetapi dapat melemahkan kedisiplinan dan akuntabilitas formal apabila tidak diimbangi dengan prosedur tertulis. Permasalahan yang berulang meliputi lemahnya disiplin, belum adanya SOP tertulis yang jelas, proses administrasi yang masih manual, keterlambatan dokumen, sanksi yang belum tegas, hambatan koordinasi lintas fungsi, dan ketergantungan pada tacit knowledge karyawan berpengalaman. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar ISP mempertahankan kekuatan budaya kekeluargaan sambil memperkuat sistem kerja formal melalui SOP tertulis, checklist praktis, akuntabilitas yang lebih jelas, rutinitas transfer pengetahuan, mekanisme koordinasi lintas fungsi, dan praktik penghargaan yang adil. Kontribusi penelitian ini terletak pada integrasi nilai pribadi, budaya organisasi, kesesuaian nilai-budaya, motivasi, dan kinerja dalam konteks perusahaan jasa logistik kecil di Indonesia, serta penyusunan rekomendasi praktis untuk meningkatkan kinerja karyawan tanpa merusak kekuatan budaya yang sudah dimiliki perusahaan.