digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri florikultura di Indonesia merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang. Permintaan tidak hanya dipicu oleh acara tradisional seperti pernikahan dan wisuda, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup generasi milenial dan Gen Z. Bunga kini dipandang sebagai medium ekspresi diri, personal branding, dan estetika gaya hidup. Di Bandung, yang dikenal dengan ekosistem ekonomi kreatifnya, Saleeya Florist berdiri pada tahun 2023 dengan konsep unik Omakase, di mana pelanggan mempercayakan sepenuhnya desain rangkaian bunga kepada florist. Konsep ini membedakan Saleeya dari florist konvensional, namun juga menghadirkan tantangan yang menghambat pertumbuhan berkelanjutan. Tiga isu utama yang muncul adalah: pertama, banyak pelanggan kesulitan mengungkapkan preferensi mereka, sehingga terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan hasil rangkaian. Kedua, ketergantungan pada pekerja paruh waktu tanpa pelatihan terstruktur atau alur kerja yang jelas menimbulkan inkonsistensi kualitas layanan, terutama pada musim sibuk. Ketiga, bisnis masih sangat bergantung pada puncak musim tertentu seperti Hari Valentine atau periode wisuda, yang mengakibatkan pendapatan tidak stabil dan sulit untuk ditingkatkan skala pertumbuhannya. Tantangan yang saling terkait ini menegaskan perlunya proses inovasi yang terstruktur, yang mampu menyeimbangkan kreativitas, kepercayaan pelanggan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini menggunakan Design Thinking sebagai pendekatan metodologis utama dan Business Model Innovation (BMI) sebagai kerangka konseptual. Design Thinking, melalui tahapan iteratif—empathize, define, ideate, prototype, dan test— menyediakan proses berpusat pada manusia untuk mengidentifikasi masalah dan menciptakan solusi. Sementara itu, BMI yang dioperasionalkan melalui Business Model Canvas (BMC) serta pola disrupsi dari The Invincible Company (Osterwalder et al., 2020), memungkinkan konfigurasi ulang secara sistematis pada elemen frontstage (value proposition, customer segments, channels, relationships) maupun backstage (resources, activities, partnerships). Integrasi kedua kerangka ini memastikan solusi yang dihasilkan berorientasi pelanggan, layak secara operasional, dan berkelanjutan secara strategis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelanggan, wawancara internal dengan staf, observasi proses pemesanan melalui WhatsApp dan Instagram, serta benchmarking dengan florist dan dekorator acara lain. Analisis data dilakukan menggunakan empathy mapping dan business model mapping. Pendekatan multimethod ini memberikan pemahaman holistik atas pengalaman pelanggan dan praktik operasional, sehingga temuan yang dihasilkan kaya akan wawasan sekaligus relevan secara praktis. Hasil penelitian diharapkan mencakup tiga capaian utama: meningkatnya kepuasan pelanggan melalui alat yang lebih baik untuk menangkap preferensi dan komunikasi yang transparan, konsistensi operasional yang lebih terjamin melalui alur kerja terstruktur dan manajemen pekerja paruh waktu, serta pendapatan yang lebih stabil melalui diversifikasi layanan seperti workshop, langganan korporat, dan kolaborasi acara. Kontribusi penelitian ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bagaimana bisnis kreatif skala kecil dapat mengintegrasikan Design Thinking dan BMI untuk menjawab tantangan umum dalam pengalaman pelanggan dan operasional. Secara konseptual, studi ini memperlihatkan bagaimana riset berorientasi empati dapat diterjemahkan menjadi inovasi model bisnis yang nyata. Secara praktis, penelitian ini menawarkan strategi yang jelas bagi Saleeya Florist untuk membangun ketahanan dan skalabilitas di industri yang kompetitif dan musiman.