digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Integrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar ke dalam sistem listrik industri memberikan peluang pengurangan konsumsi bahan bakar dan pencapaian target dekarbonisasi, namun juga menimbulkan risiko operasional ketika fleksibilitas sistem terbatas. Setelah implementasi portofolio PLTS sebesar ±25 MWp, PT OEC menghadapi dua tantangan utama, yaitu realisasi nilai energi PLTS yang belum optimal serta meningkatnya risiko ketidakstabilan frekuensi sistem, termasuk kejadian under-frequency load shedding (UFLS) tanpa trip pembangkit. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar permasalahan tersebut dan menentukan kombinasi solusi operasional dan investasi yang paling efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data operasional PLTS dan sistem frekuensi periode Januari–Juni 2025 dianalisis, mencakup produksi energi, ramp-rate PLTS, deviasi frekuensi, serta catatan gangguan sistem. Hasil benchmarking menunjukkan bahwa specific yield PLTS PT OEC berada pada kisaran normal tropis (±3,1–3,9 kWh/kWp/hari), namun sekitar 5–15% lebih rendah dibandingkan benchmark sistem sebanding, yang mengindikasikan peluang optimasi nilai, bukan kegagalan teknis. Kejadian gangguan frekuensi utama dianalisis menggunakan metode Kepner–Tregoe (KT) untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara sistematis. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab utama ketidakstabilan frekuensi adalah keterbatasan spinning reserve efektif dan ketiadaan respon cepat pada kondisi variabilitas PLTS tinggi, terutama saat tingkat inersia sistem rendah. Variabilitas PLTS berperan sebagai pemicu gangguan, bukan sebagai akar penyebab utama. Alternatif solusi dievaluasi menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dan dilengkapi analisis sensitivitas. Battery Energy Storage System (BESS) muncul sebagai solusi jangka panjang paling andal ketika keandalan sistem menjadi prioritas, sementara solusi operasional seperti koordinasi PV–GT dan optimasi spinning reserve efektif sebagai mitigasi risiko jangka pendek. Penelitian ini mengusulkan strategi implementasi bertahap untuk menyeimbangkan risiko operasional, kesiapan sistem, dan nilai investasi jangka panjang.