Topsoil removal merupakan aktivitas penting dalam operasi tambang terbuka
karena menentukan kesiapan area penambangan, keberlangsungan produksi, serta
keberhasilan reklamasi lahan pascatambang. Namun demikian, proses ini masih
menghadapi berbagai inefisiensi operasional seperti waktu tunggu yang tinggi,
konflik pergerakan alat, dan variasi proses yang menyebabkan produktivitas
menurun. Selain itu, penanganan topsoil yang kurang tepat dapat menurunkan
kualitas tanah sehingga mengurangi keberhasilan revegetasi.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi waste pada proses topsoil removal,
merumuskan strategi peningkatan produktivitas, serta mengevaluasi bagaimana
preservasi kualitas topsoil dapat dipertahankan. Penelitian menggunakan
pendekatan Lean Six Sigma melalui metodologi DMAIC (Define, Measure,
Analyze, Improve, dan Control) dengan studi kasus di PT BBB. Value Stream
Mapping (VSM) digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas bernilai tambah dan
tidak bernilai tambah, Cycle Time Analysis dan Pareto Analysis digunakan untuk
mengukur tingkat inefisiensi serta menentukan prioritas permasalahan, sedangkan
Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) digunakan untuk mengevaluasi risiko
operasional dan menentukan prioritas perbaikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan produktivitas terutama
disebabkan oleh waktu tunggu, konflik lalu lintas alat, gangguan operasional, dan
ketidakkonsistenan pelaksanaan di lapangan, bukan karena keterbatasan kapasitas
alat. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian mengusulkan optimasi sistem
dispatch, penyeimbangan armada, perbaikan manajemen jalan angkut, pengaturan
lalu lintas operasional, serta penerapan prosedur operasional preventif. Penelitian
ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dan preservasi kualitas topsoil
dapat dicapai secara bersamaan melalui perbaikan operasional yang sistematis
dan berbasis data.
Perpustakaan Digital ITB