Industri makanan dan minuman di Bandung telah mencapai 3.080 usaha pada
tahun 2024. LRB Restaurant di kawasan bersejarah Jalan Braga menghadapi
tantangan pertumbuhan pendapatan 15% dan laba 10% dalam satu tahun di
tengah kenaikan biaya sewa 10% per tahun. Meski unggul dalam lokasi warisan
budaya, suasana vintage, musik live, dan menu andalan, keputusan pemasaran
yang masih reaktif mengakibatkan alokasi anggaran tidak efisien dan rendahnya
kesadaran merek di kalangan non-pelanggan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis bauran pemasaran LRB
Restaurant saat ini; (2) menilai pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap
efektivitas pemasaran; dan (3) merumuskan strategi pemasaran yang paling sesuai.
Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif eksploratif dengan 25 partisipan
melalui purposive sampling lima staf, sepuluh pelanggan, dan sepuluh non
pelanggan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan kuesioner,
dianalisis dengan analisis tematik (Braun & Clarke, 2006) menggunakan NVivo,
dan terstruktur melalui lima kerangka: Bauran Pemasaran 7P, VRIO, Lima
Kekuatan Porter, SWOT, TOWS, serta tabel triangulasi yang memetakan tema
strategis ke elemen bauran pemasaran.
Temuan menunjukkan bauran pemasaran saat ini kuat dalam produk, tempat, dan
bukti fisik, namun lemah dalam promosi, orang, dan proses. Lokasi di Braga
merupakan keunggulan kompetitif berkelanjutan, sementara pemasaran digital dan
kesadaran merek adalah kelemahan kompetitif. Secara eksternal, restoran
menghadapi daya tawar pelanggan tinggi, persaingan ketat, dan ancaman
pendatang baru. Kesenjangan kritis terletak pada ketidakmampuan restoran
mengkomunikasikan kekuatannya kepada pasar.
Strategi yang direkomendasikan adalah diferensiasi berbasis pengalaman yang
diperkuat pemasaran digital dan komunikasi merek, dioperasionalkan melalui
bauran pemasaran 7P dengan prioritas pada promosi, bukti fisik, orang, dan
proses, didukung rencana implementasi tiga fase dengan KPI yang terukur.
Perpustakaan Digital ITB