digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri makanan dan minuman di Bandung telah mencapai 3.080 usaha pada tahun 2024. LRB Restaurant di kawasan bersejarah Jalan Braga menghadapi tantangan pertumbuhan pendapatan 15% dan laba 10% dalam satu tahun di tengah kenaikan biaya sewa 10% per tahun. Meski unggul dalam lokasi warisan budaya, suasana vintage, musik live, dan menu andalan, keputusan pemasaran yang masih reaktif mengakibatkan alokasi anggaran tidak efisien dan rendahnya kesadaran merek di kalangan non-pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis bauran pemasaran LRB Restaurant saat ini; (2) menilai pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap efektivitas pemasaran; dan (3) merumuskan strategi pemasaran yang paling sesuai. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif eksploratif dengan 25 partisipan melalui purposive sampling lima staf, sepuluh pelanggan, dan sepuluh non pelanggan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan kuesioner, dianalisis dengan analisis tematik (Braun & Clarke, 2006) menggunakan NVivo, dan terstruktur melalui lima kerangka: Bauran Pemasaran 7P, VRIO, Lima Kekuatan Porter, SWOT, TOWS, serta tabel triangulasi yang memetakan tema strategis ke elemen bauran pemasaran. Temuan menunjukkan bauran pemasaran saat ini kuat dalam produk, tempat, dan bukti fisik, namun lemah dalam promosi, orang, dan proses. Lokasi di Braga merupakan keunggulan kompetitif berkelanjutan, sementara pemasaran digital dan kesadaran merek adalah kelemahan kompetitif. Secara eksternal, restoran menghadapi daya tawar pelanggan tinggi, persaingan ketat, dan ancaman pendatang baru. Kesenjangan kritis terletak pada ketidakmampuan restoran mengkomunikasikan kekuatannya kepada pasar. Strategi yang direkomendasikan adalah diferensiasi berbasis pengalaman yang diperkuat pemasaran digital dan komunikasi merek, dioperasionalkan melalui bauran pemasaran 7P dengan prioritas pada promosi, bukti fisik, orang, dan proses, didukung rencana implementasi tiga fase dengan KPI yang terukur.