digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri jasa keuangan Indonesia sedang mengalami periode transformasi yang dramatis, hal ini terutama didorong oleh kemajuan pesat pada perkembangan platform Teknologi Finansial (FinTech) dan maraknya proses digitalisasi pada bank-bank komersial besar, baik swasta maupun nasional. Dalam situasi yang sangat dinamis ini, Bank Perekonomian Rakyat (BPR), yang secara tradisional diposisikan sebagai lembaga keuangan mikro dan pada hakikatnya didedikasikan untuk melayani masyarakat regional serta pedesaan, menghadapi tantangan yang sangat disruptif terhadap relevansi pasarnya di industri jasa keuangan nasional. Segmen nasabah BPR saat ini berada dalam segmentasi silang (crossover segmentation) yang canggung di industry jasa keuangan: untuk kebutuhan tabungan dan modal kerja, masyarakat secara umum cenderung lebih memilih keamanan dan kemudahan yang disediakan oleh bank komersial besar; sementara itu di sisi lain, untuk pinjaman skala mikro, kecil, dan menengah, nasabah secara masif semakin bermigrasi ke platform pinjaman online yang lebih agile, mudah dan inklusif. Inersia kompetitif ini bukan lagi sekedar kompetisi bisnis semata, namun merupakan tantangan yang nyata akan keberlangsungan hidup BPR (survival of the fittest), serta terhadap relevansi keberadaan nya di industri jasa keuangan yang seharusnya inklusif. Ditengah runtuh nya satu persatu BPR di berbagai daerah akibat kurangnya modal, fraud, dan irelevansi bisnis, isu ini menjadi semakin penting untuk ditelaah demi memastikan keberlanjutan BPR sebagai komponen penting dari ekosistem keuangan nasional. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan kerangka kerja strategis yang kuat dan dapat ditindaklanjuti serta diimplementasikan, dengan menguraikan proses transformasi digital Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Indonesia lewat studi kasus pada BPR Saridana Surabaya sebagai contoh nyata. Proses transformasi yang tengah berlangsung ini memungkinkan mereka untuk meningkatkan daya saing dan mengamankan relevansi pasar mereka. Kerangka teori dari penelitian ini didasarkan pada teori mengenai Ambidexteritas Organisasi (Organizational Ambidexterity), yang menyatakan bahwa keberlangsungan hidup organisasi jangka panjang dalam lingkungan yang dinamis menuntut didorongnya pengembangan secara simultan dari dua kegiatan yang bertentangan: eksploitasi dan eksplorasi. Argumen utama dari penelitian ini adalah bahwa untuk dapat menciptakan transformasi digital BPR yang sukses dibutuhkan ambidexteritas, khususnya kemampuan untuk mengeksploitasi kompetensi inti yang telah ada di BPR (misalnya, hubungan nasabah lokal yang kuat dan pengetahuan pasar regional) melalui digitalisasi secara inkremental dan peningkatan efisiensi operasional, sambil secara bersamaan mengeksplorasi model bisnis digital baru (misalnya, dengan meluncurkan aplikasi seluler khusus, berintegrasi dan berkolaborasi dengan API FinTech untuk dapat memasuki segmen pasar pinjaman digital). Keseimbangan strategis ini dihipotesiskan sebagai factor penentu utama terhadap daya saing BPR di masa depan. Penelitian ini akan mengadopsi pendekatan metode campuran (mixed methods), menggabungkan metode studi kualitatif dan kuantitatif terhadap pemilik BPR, eksekutif, dan manajer tingkat menengah, khususnya di BPR Saridana Surabaya yang saat ini sedang menjalani transformasi besar menjadi bank digital setelah diakuisisi oleh investor baru, serta terhadap regulator, dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tahapan penelitian utama meliputi tinjauan komprehensif literatur akademis, regulasi, benchmarking, dan dengan melakukan pengumpulan data primer melalui wawancara semi-terstruktur dan survei tervalidasi. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini bersifat ganda. Secara praktis, penelitian ini akan menghasilkan Peta Jalan Transformasi Digital Ambidextrous yang disintesis dan disesuaikan secara spesifik dengan kendala sumber daya dan lingkungan regulasi yang dihadapi oleh BPR Indonesia. Peta jalan ini akan memberikan panduan nyata tentang prioritas investasi digital, penstrukturan tim lintas fungsi, dan implementasi proses perubahan yang berfokus pada peningkatan keterampilan karyawan dan adaptasi budaya, sebagaimana diinformasikan oleh prinsip Manajemen Perubahan yang telah mapan. Secara akademis, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur manajemen strategis dengan memberikan bukti empiris mengenai penerapan kerangka Ambidexteritas Organisasi dalam konteks lembaga keuangan mikro yang terfokus secara geografis dan terbatas sumber daya, yang sedang menavigasi disrupsi digital yang intensif. Temuan ini akan memajukan pemahaman tentang bagaimana struktur perbankan tradisional dapat memanfaatkan kapabilitas dinamis untuk mengubah proposisi nilai mereka dan mempertahankan inklusi keuangan di negara berkembang. Keberhasilan adopsi strategi ini akan mengamankan ketahanan BPR, memastikan mereka tetap menjadi mesin yang relevan bagi pertumbuhan ekonomi regional, sambil tetap relevan dengan industri jasa keuangan yang terus berkembang.