Penelitian ini mengembangkan kerangka pengambilan keputusan praktis untuk membantu manajemen memilih platform permintaan layanan General Affairs (GA) di PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). HBAP mulai beroperasi komersial pada Oktober 2023 dengan fokus awal pada stabilisasi pembangkitan listrik, sementara digitalisasi fungsi pendukung internal masih berjalan. Di dalam General Affairs, banyak permintaan layanan masih bergantung pada formulir kertas, spreadsheet, email, dan aplikasi pesan yang terpisah di site maupun kantor Jakarta. Fragmentasi ini menyulitkan pencapaian target layanan, pemantauan status permintaan, dan pemeliharaan jejak audit yang lengkap. Dengan keterbatasan sumber daya dan fungsi TI yang ramping, organisasi memerlukan pilihan platform yang berkelanjutan dan hemat biaya khusus untuk manajemen permintaan layanan GA.
Kerangka ini mengevaluasi tiga alternatif platform dalam horizon lima tahun untuk sekitar enam puluh delapan karyawan: solusi low-code internal di dalam ekosistem Microsoft 365 yang sudah ada (A1), aplikasi khusus (bespoke) yang dikembangkan konsultan eksternal (A2), dan paket perangkat lunak komersial siap pakai/COTS (A3). Analisis akar masalah menggunakan Five Whys dan diagram Fishbone (Ishikawa) menunjukkan bahwa perbaikan administratif bertahap tidak cukup, sehingga diperlukan satu platform permintaan layanan GA. Kriteria evaluasi dibangun dari lensa yang sudah mapan: Total Cost of Ownership (Ellram, 1995); Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean (DeLone & McLean, 1992, 2003); Technology Acceptance Model (Davis, 1989); dan Diffusion of Innovations (Rogers, 2003).
Alat pengambilan keputusan utama adalah Analytic Hierarchy Process (Saaty, 1980, 1990), yang dijalankan pada AHP Online System AHP-OS (Goepel, 2018). Panel pemangku kepentingan terstruktur berjumlah tiga belas responden memberikan perbandingan berpasangan terhadap lima kriteria utama dan tiga alternatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden, disertai lembar pengarahan (briefing sheet) satu halaman; penilaian individual diagregasi dengan rata-rata geometrik (AIJ), dan konsistensi diverifikasi pada tingkat kelompok (CR keseluruhan 0,3% untuk matriks kriteria; seluruh matriks alternatif di bawah ambang 0,10).
Hasil menunjukkan bahwa, berbeda dari anggapan umum bahwa biaya mendominasi keputusan semacam ini, para pemangku kepentingan memberi bobot tertinggi pada kualitas layanan dan penerimaan pengguna (28,0%), diikuti tata kelola dan risiko (24,0%), kesesuaian strategis dan kompatibilitas teknis (23,6%), kecepatan dan adaptabilitas (17,6%), serta biaya lima tahun yang justru terendah (6,8%). Setelah disintesiskan, platform low-code internal A1 memperoleh prioritas global tertinggi sebesar 64,4%, di atas langganan COTS A3 (19,9%) dan opsi bespoke A2 (15,7%). Peringkat A1 > A3 > A2 tetap stabil pada seluruh skenario sensitivitas, termasuk pada kasus ekstrem bobot kriteria yang setara.
Studi ini menyusun peta jalan implementasi tiga fase selama dua belas bulan yang mengaitkan platform terpilih dengan quick wins – katalog layanan GA, alur persetujuan terintegrasi, notifikasi, dan dasbor – serta enabler tata kelola dasar berupa pemisahan lingkungan pengembangan–pengujian–produksi, pengendalian akses berbasis peran, dan pencatatan perubahan. Kontribusi manajerialnya adalah keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan; kontribusi ilmiahnya adalah kerangka keputusan terapan yang mengintegrasikan AHP dengan konstruk sistem informasi dan ekonomi yang mapan serta alat analisis akar masalah dasar.
Perpustakaan Digital ITB