Meningkatnya tren "Healing Economy" dan "Kidult" membantu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia, namun merek Kekayaan Intelektual (IP) seperti ChasingDreams masih berjuang menghadapi angka cart abandonment yang mencapai 91,4%. Angka ini menjadi indikasi nyata adanya celah (gap) antara sekadar menyukai sebuah karakter dengan benar-benar memercayai sebuah brand. Penelitian ini mengeksplorasi "Execution Gap" tersebut untuk memahami mengapa daya tarik visual saja tidak cukup untuk membangun nilai bisnis yang berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan Design Thinking serta metode studi kasus kualitatif yang didukung oleh triangulasi metodologi mencakup VRIO, RBV, McKinsey 7S, SLEPT, dan Customer Journey Mapping akar permasalahan berhasil diidentifikasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun memiliki nilai kreatif yang tinggi, brand ini masih berstatus "Unexploited Competitive Advantage" karena belum adanya sistem organisasi yang mumpuni untuk melakukan skalasi. Untuk menjembatani celah tersebut, peneliti mengembangkan Strategic Management Framework yang menempatkan Kapasitas Organisasi sebagai fondasi utamanya, guna mengubah model kerja "artisan" yang bersifat individual menjadi sistem yang lebih profesional. Di atas fondasi ini, dibangun tiga pilar Brand Equity: (1) Memperdalam Brand Meaning melalui Transmedia Storytelling untuk menciptakan kedalaman emosional; (2) Memperkuat Brand Response untuk membangun kepercayaan yang interaktif; dan (3) Menumbuhkan Brand Resonance untuk mengubah audiens biasa menjadi komunitas yang loyal. Hasil uji validasi membuktikan bahwa pilar-pilar narasi ini berfungsi sebagai "emotional anchors" yang mampu menurunkan sensitivitas harga dan mendorong keputusan pembelian. Tesis ini menyimpulkan bahwa organisasi yang profesional adalah mesin utama yang memungkinkan cerita bermakna dan berbasis kepercayaan untuk mengubah aset kreatif menjadi Brand Equity yang berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB