Film silat yang berakar dari karya sastra telah berkembang menjadi bagian integral
dari budaya populer di Indonesia. Genre ini secara konsisten mewacanakan tokoh
pendekar sebagai simbol kekuatan fisik dan moral. Meskipun tokoh laki-laki dan
perempuan sama-sama direpresentasikan sebagai pendekar, konstruksi gender
terhadap keduanya memunculkan makna yang berbeda. Tokoh laki-laki cenderung
digambarkan sebagai pelindung masyarakat yang menjunjung nilai-nilai tradisional
dan stabilitas moral, sedangkan tokoh perempuan lebih sering menghadirkan
dimensi emosional serta narasi perjuangan identitas yang kompleks dan menantang
norma-norma patriarkal. Di dalam konteks ini, film Wiro Sableng (2018) yang
mengadaptasi novel karya Bastian Tito, menampilkan tokoh Anggini sebagai
pendekar perempuan yang mengalami transformasi: dari sosok pemalu menjadi
figur yang berani, independen, dan tegas. Representasi tersebut terbentuk melalui
kuasa produser, sutradara, penulis naskah, dan tim produksi yang membingkai
narasi serta membentuk wacana melalui penggunaan moda secara multimodal. Oleh
karena itu, film silat tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga
sebagai wahana ideologis yang turut membentuk struktur kekuasaan melalui teknik
framing dan konfigurasi visual-verbal. Analisis terhadap representasi tokoh
perempuan dalam film silat, khususnya dalam Wiro Sableng, menjadi penting untuk
mengungkap dinamika kekuasaan, ideologi, dan konstruksi gender yang
tersembunyi di balik narasi dan visual yang tampak alami.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara film Wiro Sableng (2018)
merepresentasikan tokoh pendekar perempuan serta menggambarkan relasi
kekuasaan dan ideologi yang melekat padanya. Selain itu, penelitian ini mengkaji
cara kerja representasi tokoh Anggini merefleksikan peran perempuan dalam
konteks sosial budaya Indonesia melalui medium film silat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Multimodal
(AWKM) yang dikembangkan oleh David Machin, dengan fokus pada modalitas
kostum, gestur tubuh, dan tuturan. Peneliti menggunakan teknik purposive
sampling, dengan tokoh Anggini sebagai objek utama. Kriteria pemilihan shot
mencakup: (1) kompleksitas konteks dan penggunaan moda, (2) kemunculan unsur
tantangan, rasa penasaran, atau enigma, (3) variasi pengaturan moda visual dan verbal, serta (4) memiliki potensi atau asumsi untuk memunculkan ideologi dan
relasi kekuasaan dalam representasi tokoh perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi tokoh pendekar perempuan
dalam Wiro Sableng (2018) dibentuk melalui kerja antarmoda yang saling
melengkapi dan ideologis. Kostum, gerak, dan tuturan berfungsi sebagai sumber
daya semiotik yang secara simultan membangun agensi sekaligus menetapkan batas
simbolik terhadap keberdayaan perempuan. Keberdayaan Anggini tidak lahir dari
redefinisi femininitas, melainkan dari performativitas yang menginternalisasi dan
mengulang kode maskulin agar diakui dan ideal dalam struktur naratif dan visual
film.
Dengan demikian, film ini menghadirkan paradoks ideologi yang menampilkan
figur perempuan yang kuat dan dominan di satu sisi, tetapi di sisi lain tetap
mereproduksi logika kuasa maskulin dan hierarki simbolik yang telah mapan.
Representasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan melalui film ini tidak
sepenuhnya membongkar dominasi, melainkan menggesernya ke dalam bentuk
yang lebih terselubung dan terkoordinasi secara sinematik. Penelitian ini juga
memperluas analisis wacana kritis multimodal David Machin dengan
mengintegrasikan imaji gerak pada moda visual dan tindak tutur serta prinsip
kesopanan pada moda verbal untuk mengkaji teks mutimodal berupa gambar
bergerak.
Perpustakaan Digital ITB