digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Feny Puspitasari [37022002]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Film silat yang berakar dari karya sastra telah berkembang menjadi bagian integral dari budaya populer di Indonesia. Genre ini secara konsisten mewacanakan tokoh pendekar sebagai simbol kekuatan fisik dan moral. Meskipun tokoh laki-laki dan perempuan sama-sama direpresentasikan sebagai pendekar, konstruksi gender terhadap keduanya memunculkan makna yang berbeda. Tokoh laki-laki cenderung digambarkan sebagai pelindung masyarakat yang menjunjung nilai-nilai tradisional dan stabilitas moral, sedangkan tokoh perempuan lebih sering menghadirkan dimensi emosional serta narasi perjuangan identitas yang kompleks dan menantang norma-norma patriarkal. Di dalam konteks ini, film Wiro Sableng (2018) yang mengadaptasi novel karya Bastian Tito, menampilkan tokoh Anggini sebagai pendekar perempuan yang mengalami transformasi: dari sosok pemalu menjadi figur yang berani, independen, dan tegas. Representasi tersebut terbentuk melalui kuasa produser, sutradara, penulis naskah, dan tim produksi yang membingkai narasi serta membentuk wacana melalui penggunaan moda secara multimodal. Oleh karena itu, film silat tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai wahana ideologis yang turut membentuk struktur kekuasaan melalui teknik framing dan konfigurasi visual-verbal. Analisis terhadap representasi tokoh perempuan dalam film silat, khususnya dalam Wiro Sableng, menjadi penting untuk mengungkap dinamika kekuasaan, ideologi, dan konstruksi gender yang tersembunyi di balik narasi dan visual yang tampak alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara film Wiro Sableng (2018) merepresentasikan tokoh pendekar perempuan serta menggambarkan relasi kekuasaan dan ideologi yang melekat padanya. Selain itu, penelitian ini mengkaji cara kerja representasi tokoh Anggini merefleksikan peran perempuan dalam konteks sosial budaya Indonesia melalui medium film silat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Multimodal (AWKM) yang dikembangkan oleh David Machin, dengan fokus pada modalitas kostum, gestur tubuh, dan tuturan. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling, dengan tokoh Anggini sebagai objek utama. Kriteria pemilihan shot mencakup: (1) kompleksitas konteks dan penggunaan moda, (2) kemunculan unsur tantangan, rasa penasaran, atau enigma, (3) variasi pengaturan moda visual dan verbal, serta (4) memiliki potensi atau asumsi untuk memunculkan ideologi dan relasi kekuasaan dalam representasi tokoh perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi tokoh pendekar perempuan dalam Wiro Sableng (2018) dibentuk melalui kerja antarmoda yang saling melengkapi dan ideologis. Kostum, gerak, dan tuturan berfungsi sebagai sumber daya semiotik yang secara simultan membangun agensi sekaligus menetapkan batas simbolik terhadap keberdayaan perempuan. Keberdayaan Anggini tidak lahir dari redefinisi femininitas, melainkan dari performativitas yang menginternalisasi dan mengulang kode maskulin agar diakui dan ideal dalam struktur naratif dan visual film. Dengan demikian, film ini menghadirkan paradoks ideologi yang menampilkan figur perempuan yang kuat dan dominan di satu sisi, tetapi di sisi lain tetap mereproduksi logika kuasa maskulin dan hierarki simbolik yang telah mapan. Representasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan melalui film ini tidak sepenuhnya membongkar dominasi, melainkan menggesernya ke dalam bentuk yang lebih terselubung dan terkoordinasi secara sinematik. Penelitian ini juga memperluas analisis wacana kritis multimodal David Machin dengan mengintegrasikan imaji gerak pada moda visual dan tindak tutur serta prinsip kesopanan pada moda verbal untuk mengkaji teks mutimodal berupa gambar bergerak.