Perkembangan teknologi digital mendorong pemanfaatan chatbot sebagai media
interaksi dalam berbagai layanan berbasis daring, termasuk layanan konseling.
Meskipun chatbot menawarkan kemudahan dan efisiensi, efektivitas interaksi chatbot
dalam layanan konseling juga perlu diperhatikan, karena preferensi pengguna terhadap
chatbot mencerminkan sejauh mana interaksi tersebut sesuai dengan kebutuhan
masing-masing pengguna. Preferensi ini tidak bersifat seragam, sehingga variasi
respons dapat diamati lebih jelas ketika pengguna dibedakan berdasarkan demografi
tertentu.
Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji preferensi pengguna terhadap chatbot
dan peran karakteristik psikologis dalam interaksi manusia dan teknologi, kajian yang
menelaah pola preferensi pada masing-masing kelompok gender serta mengaitkannya
langsung dengan perancangan alur interaksi chatbot konseling masih terbatas.
Penelitian ini memberikan perspektif tambahan dengan menempatkan fokus analisis
pada preferensi terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling pada masing-
masing kelompok gender dan mengaitkannya dengan implikasi perancangan alur
interaksi chatbot konseling.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola preferensi pengguna terhadap chatbot
konseling berdasarkan karakteristik psikologis pengguna dalam masing-masing
kelompok gender. Penelitian melibatkan 188 responden mahasiswa dengan dua
variabel psikologis, yaitu social anxiety dan neuroticism.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola preferensi pengguna terhadap tingkat
antropomorfisme chatbot konseling berbeda antar kelompok gender. Studi ini
memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian interaksi manusia dan
chatbot melalui pendekatan psikologis, serta kontribusi praktis bagi pengembang
layanan konseling digital dalam merancang chatbot yang lebih sesuai dengan
preferensi pengguna.
Perpustakaan Digital ITB