Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan besar di
banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Selama puluhan tahun, Indonesia
tercatat sebagai salah satu negara dengan beban dengue tertinggi di dunia. Di
Jakarta pada tahun 2019 dilaporkan lebih dari 8.700 kasus, dan Jakarta Timur
mencatat hampir seribu kasus pada tahun 2021 dengan kecenderungan peningkatan
di sejumlah kecamatan. Gambaran ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan yang
ada belum cukup, sehingga dibutuhkan sistem peringatan dini yang lebih kuat,
akurat, dan berbasis data. Penelitian ini mencoba menjawab kebutuhan tersebut
dengan menggabungkan dua pendekatan yang saling melengkapi. Pertama, model
matematika digunakan untuk memahami dinamika populasi nyamuk Aedes aegypti
dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti suhu, curah hujan,
dan kelembapan. Model ini juga menyoroti peran penting fase telur nyamuk
yang dapat bertahan dalam kondisi kering dalam menurunkan angka reproduksi
dasar (R0). Kedua, hasil dari model matematika ini digunakan sebagai masukan
utama dalam pelatihan model deep learning LSTM, bersama data historis kasus
DBD dan indeks ONI sebagai indikator kondisi iklim global. Pendekatan ini
menghasilkan performa prediksi yang kuat, dengan nilai R2 mencapai sekitar 0.75
pada beberapa wilayah. Prediksi untuk tahun 2026 menunjukkan pola musiman
yang jelas: risiko DBD meningkat pada musim hujan dan menurun pada musim
kemarau. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara
pemodelan matematika dan kecerdasan buatan memberikan dasar ilmiah yang lebih
kuat untuk membangun Early Warning System DBD yang lebih adaptif dan tepat
sasaran. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pemerintah dan pemangku
kepentingan dalam merancang strategi pencegahan dan pengendalian dengue yang
lebih efektif, khususnya di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB