Kebijakan Energi Nasional (KEN) menargetkan bauran Energi Baru dan
Terbarukan (EBT) mencapai 23% dan rasio elektrifikasi mendekati 100% pada
tahun 2025. Sistem microgrid berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
menjadi solusi strategis untuk elektrifikasi wilayah 3T (Terdepan, Terluar dan
Tertinggal) di Indonesia yang belum terjangkau jaringan listrik. Namun,
implementasinya menghadapi tantangan signifikan, terutama dalam menjaga
keseimbangan pasokan dan permintaan energi saat beroperasi dalam mode
islanded. Sistem microgrid BRIN saat ini menerapkan metode penentuan
pemutusan beban berbasis rule-based dengan parameter State of Charge (SoC)
baterai yang statis. Sistem ini hanya mampu mempertahankan suplai energi ke
beban kritis selama 3-17 jam bergantung pada besaran beban dan energi PLTS.
Keterbatasan utamanya adalah sifatnya yang reaktif dan penggunaan aturan yang
statis serta tidak dapat mengantisipasi ketersediaan energi PLTS di masa depan
sehingga kurang optimal dalam mengelola sumber daya energi dalam menjaga
durasi operasi beban kritis.
Penelitian ini mengembangkan dan memvalidasi metode penentuan pemutusan
beban berbasis logika fuzzy yang terintegrasi dengan prakiraan jangka menengah
energi PLTS selama 1-5 hari ke depan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada
integrasi dua parameter input pada logika fuzzy yaitu prakiraan jangka menengah
energi PLTS dan State of Charge (SoC) baterai. Metode penelitian menggunakan
Design Science Research Methodology (DSRM) yang mencakup identifikasi
masalah, mendefinisikan tujuan dan solusi, membuat perancangan dan
pengembangan, melakukan demonstrasi, evaluasi dan komunikasi. Metode
diimplementasikan pada perangkat edge computing Raspberry Pi untuk menguji
dan memvalidasi pada sistem microgrid di BRIN.
ii
Model prakiraan energi PLTS dikembangkan menggunakan algoritma Long Short-
Term Memory (LSTM) dengan arsitektur stacked 2 layer (256-128 unit). Dataset
menggunakan data historis dari sistem microgrid BRIN meliputi data produksi
energi PLTS, iradiasi matahari, temperatur modul dan data cuaca. Feature
engineering berbasis waktu dan lag sequential digunakan untuk membantu model
mengenali pola siklus harian, mingguan dan tahunan. Model menghasilkan akurasi
dengan nilai RMSE 1,1916 kW, MAE 0,8688 kW dan R2 0,7154. Optimisasi model
menggunakan Dynamic Range Quantization mengurangi ukuran file sebesar
91,3%, penggunaan RAM sebesar 91% dan mempercepat waktu inferensi sebesar
39% tanpa penurunan akurasi yang signifikan.
Metode penentuan pemutusan beban menggunakan logika fuzzy dengan dua
parameter input yaitu hasil prakiraan energi PLTS dan SoC baterai. Sebanyak 16
aturan fuzzy IF-THEN dirancang untuk menghasilkan prioritas pemutusan beban
yang adaptif. Evaluasi metode penentuan pemutusan beban berbasis logika fuzzy
menunjukkan peningkatan dibanding metode penentuan pemutusan beban berbasis
rule-based. Pada skenario beban normal (? 1,40 kWh), durasi operasi beban kritis
meningkat 19,3% dari 985 menit menjadi 1.175 menit, sementara itu pada skenario
beban tinggi (? 3,65 kWh), durasi operasi beban kritis meningkat 19,6% dari 194
menit menjadi 232 menit. Dalam pengujian operasional harian, metode penentuan
pemutusan beban berbasis logika fuzzy mampu mempertahankan suplai energi ke
beban kritis rata-rata selama 1.151 menit atau sekitar 19 jam per hari. Hal ini
membuktikan kemampuan metode penentuan pemutusan beban dalam
mengoptimalkan pengelolaan sumber daya energi yang digunakan pada sistem
microgrid yaitu PLTS dan baterai serta memperpanjang durasi operasi beban kritis.
Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metode penentuan pemutusan
beban sebagai bagian dari sistem manajemen energi pada microgrid yang
berpotensi untuk direplikasi pada sistem microgrid lain di Indonesia khususnya di
wilayah 3T. Selain itu, mendukung pencapaian target KEN dalam bauran EBT
sebesar 23% dan rasio elektrifikasi mendekati 100%.
Perpustakaan Digital ITB