Pulau Sumatra merupakan wilayah strategis untuk redistribusi penduduk dan
pengembangan kegiatan ekonomi di Indonesia serta semakin dipandang sebagai
alternatif terhadap Pulau Jawa. Dinamika tersebut mendorong peningkatan
kebutuhan sumber daya air, khususnya air tanah, yang penting untuk menunjang
sektor domestik, pertanian, dan industri. Namun, pemantauan air tanah di Indonesia
masih terbatas dari sisi cakupan, konsistensi, dan ketersediaan data jangka panjang,
sehingga menyulitkan perencanaan pengelolaan air tanah yang berkelanjutan pada
skala regional. Dalam konteks ini, pemanfaatan satelit GRACE sebagai remote
sensing menyediakan alternatif pemantauan yang mampu menangkap perubahan
simpanan air daratan secara luas dan kontinu. Meski demikian, hingga saat ini
kajian yang secara spesifik mengkuantifikasi variabilitas simpanan air tanah di
Pulau Sumatra serta mengaitkannya secara terintegrasi dengan pengaruh faktor
iklim (misalnya curah hujan dan telekoneksi ENSO-IOD) dan aktivitas
antropogenik (misalnya perubahan tata guna lahan dan indikator vegetasi) berbasis
pendekatan data GRACE belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini
menawarkan kebaruan melalui analisis spasial temporal GWSA Pulau Sumatra
periode panjang menggunakan GRACE, sekaligus mengidentifikasi faktor
dominan pengontrolnya.
Penelitian ini bertujuan menghitung serta menganalisis variabilitas spasial dan
temporal Groundwater Storage Anomaly (GWSA) di Pulau Sumatra selama
periode 2002-2024 menggunakan data satelit Gravity Recovery and Climate
Experiment (GRACE). GRACE mengestimasi perubahan massa air daratan melalui
anomali gravitasi, yang selanjutnya digunakan untuk menurunkan perubahan
Terrestrial Water Storage (TWS) dan menginterpretasikan dinamika simpanan air
tanah pada skala luas dalam grid dan ketersediaan data yang kontinu. Analisis tren
dilakukan dengan uji Mann-Kendall untuk mengidentifikasi kecenderungan
perubahan jangka panjang, sedangkan keterkaitan GWSA dengan faktor pengontrol
iklim dan antropogenik dievaluasi melalui analisis korelasi serta Empirical
Orthogonal Function (EOF) untuk memisahkan mode dominan variabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan GWSA Pulau Sumatra
memiliki tren peningkatan sebesar +0,25 mm EWH/bulan (3 mm EWH/tahun) pada
ii
periode 2002–2024. Namun, analisis sub-periode mengidentifikasi fase deplesi
signifikan pada 2002–2010 dengan tren ?0,51 mm EWH/bulan (-6.12 mm
EWH/tahun), yang mengindikasikan adanya penurunan simpanan air tanah pada
awal rentang pengamatan. Secara spasial, wilayah tengah Sumatra memperlihatkan
kondisi yang lebih rentan, khususnya Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan
mengalami deplesi air tanah yang lebih kuat dan cenderung persisten dibandingkan
wilayah lain. Pola spasial juga memperlihatkan anomali negatif yang meluas pada
pertengahan dekade 2005 hingga 2010, yang menegaskan kemampuan GRACE
dalam mendeteksi kehilangan simpanan air tanah pada skala regional.
Analisis faktor iklim mengindikasikan bahwa GWSA cenderung berbanding lurus
dengan curah hujan, yang ditunjukkan oleh korelasi positif serta adanya jeda waktu
(lag) sekitar ±1 bulan antara respon GWSA terhadap curah hujan. Hal ini
mencerminkan proses infiltrasi dan perkolasi air hujan menuju sistem akuifer yang
tidak bersifat instan. Selain itu, variabilitas GWSA juga mampu menangkap
respons terhadap kejadian iklim ekstrem, seperti kondisi El Niño kuat sekitar tahun
2015–2016 serta deplesi GWSA yang berasosiasi dengan fase IOD+ positif yang
intens. Pada aspek antropogenik, perubahan tata guna lahan dan NDVI
menunjukkan hubungan yang tidak konsisten terhadap variabilitas GWSA pada
skala regional.
Kajian pola dominan GWSA di Pulau Sumatra melalui analisis Empirical
Orthogonal Function (EOF) menunjukkan bahwa mode utama (EOF-1/PC-1
73,8%) merepresentasikan komponen dominan berupa tren positif perubahan
GWSA jangka panjang. PC-1 memperlihatkan kecenderungan peningkatan secara
gradual, dengan pengecualian adanya penurunan ekstrem sekitar periode 2004- 2005. Anomali ini diindikasikan berkaitan dengan gangguan geofisika berskala
besar, khususnya dampak gelombang seismik akibat kejadian gempa megathrust
Aceh tahun 2004, yang telah dilaporkan dalam berbagai studi mampu memicu
perubahan muka air tanah dan redistribusi simpanan air daratan. Dari sisi
keterkaitan antarvariabel, PC-1 menunjukkan asosiasi yang lebih kuat dengan
faktor iklim skala besar, yaitu indeks Niño3.4 (ENSO) dan DMI (IOD). Hal ini
mengindikasikan bahwa variabilitas jangka panjang simpanan air tanah di Sumatra
lebih dikendalikan oleh dinamika iklim regional-global yang bersifat persisten,
dibandingkan oleh fluktuasi atmosfer lokal yang lebih bersifat musiman dan berisik
(high variability).
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa perubahan GWSA di
Pulau Sumatra merupakan hasil interaksi antara faktor iklim skala besar, gangguan
geofisika, dan tekanan antropogenik, dengan dominasi pengaruh iklim dan
geofisika pada skala regional. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah
dalam mendukung pemantauan serta strategi pengelolaan air tanah berbasis
wilayah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk secara eksplisit memasukkan
parameter tektonik, seperti aktivitas seismik dan karakteristik geologi regional,
untuk memperkaya pemahaman terhadap dinamika simpanan air tanah di wilayah
tektonik aktif seperti Pulau Sumatra.
Perpustakaan Digital ITB