digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Maybank2Enterprise (M2E) milik Maybank Indonesia adalah kanal perbankan digital utama bagi nasabah non-retail bank ini di tiga segmen, UKM, Business Banking, dan Global Banking, namun stagnasi pangsa pasar, pertumbuhan kredit yang lebih lemah dibandingkan kompetitor, serta keluhan berulang yang tercatat di Customer Handling System menunjukkan adanya persoalan daya saing yang sebenarnya sudah bisa digambarkan oleh data internal yang ada, tetapi belum bisa diukur secara pasti: belum ada yang menetapkan aspek kualitas layanan mana yang benar-benar mendorong kepuasan nasabah, dan seberapa kuat pengaruhnya. Penelitian ini menjawab kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan Digital Service Quality (e-SERVQUAL) dan Technology Acceptance Model (TAM), menguji dua puluh empat hubungan hipotesis di antara tujuh variabel e SERVQUAL, yaitu Efficiency, Fulfilment, Accessibility, Security, Approval Process, Branch Dependency, dan Responsiveness, terhadap Customer Satisfaction, dengan Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness diposisikan sebagai mediator parsial. Approval Process dan Branch Dependency ditambahkan khusus untuk konteks perbankan korporat ini, karena skala e-SERVQUAL asli, yang dikembangkan untuk konteks retail, tidak mencakup keduanya. Data dikumpulkan dari 91 responden non-retail dengan pengalaman menggunakan M2E minimal satu tahun, mencakup ketiga segmen, dipilih melalui purposive sampling dengan bantuan jaringan Relationship Manager Maybank, dan dianalisis menggunakan desain cross-sectional yang bersifat eksplanatori serta Partial Least Squares Structural Equation Modelling. Sembilan dari dua puluh empat hipotesis yang diajukan terbukti didukung. Efficiency, Fulfilment, Approval Process, dan Branch Dependency secara signifikan membentuk Perceived Ease of Use, dengan Fulfilment memiliki koefisien terkuat dalam model, sementara Fulfilment, Approval Process, dan Responsiveness secara signifikan membentuk Perceived Usefulness. Hanya Efficiency yang mencapai Customer Satisfaction secara langsung; Fulfilment dan Approval Process baru mencapainya lewat efek tidak langsung yang signifikan, sebuah pola mediasi indirect-only, bukan mediasi parsial seperti yang diperkirakan kerangka konseptual sebelumnya. Accessibility dan Security tidak menunjukkan efek signifikan di bagian manapun dari model struktural. Di antara tiga jalur inti TAM, Perceived Ease of Use gagal memprediksi baik Perceived Usefulness maupun Customer Satisfaction, sementara Perceived Usefulness sendirian berhasil memprediksi kepuasan, mengindikasikan bahwa bagi pengguna yang sesungguhnya tidak punya pilihan selain memakai M2E setiap hari, kegunaanlah, bukan kemudahan penggunaan, yang pada akhirnya lebih menentukan. Temuan-temuan ini kemudian disusun menjadi struktur prioritas tiga tingkat: Efficiency, Fulfilment, dan Approval Process sebagai kandidat terkuat untuk investasi lanjutan atau peningkatan; Branch Dependency dan Responsiveness sebagai prioritas kedua; serta Accessibility dan Security, yang oleh responden sudah dianggap sebagai ekspektasi dasar dan bukan pembeda, sebagai area yang cukup dipertahankan tanpa perlu diperluas lagi. Berdasarkan struktur ini, disusun solusi bisnis dan rencana implementasi, mencakup peta jalan bertahap, rincian 5W+1H per strategi, target KPI, kebutuhan sumber daya, dan langkah mitigasi risiko, sehingga Maybank memiliki dasar yang runtut dan berbasis bukti untuk mengembangkan M2E ke depannya. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dalam tiga hal: memperluas e-SERVQUAL dengan dua variabel yang spesifik untuk perbankan korporat dan keduanya terbukti signifikan secara statistik; menunjukkan bahwa asumsi inti TAM, bahwa kemudahan penggunaan membentuk kegunaan, melemah cukup jauh ketika penggunaan platform bersifat wajib dan bukan sukarela; serta mengungkap pola mediasi indirect-only yang akan luput sepenuhnya jika memakai model efek langsung yang lebih sederhana. Bagi Maybank, manfaat praktisnya adalah dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan untuk memutuskan bagian M2E mana yang perlu diprioritaskan dalam memperkuat posisi kompetitifnya di segmen perbankan digital non-retail