digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri penerbangan merupakan sektor yang membutuhkan modal besar dan sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi. Garuda Indonesia, sebagai maskapai nasional, memiliki kebutuhan untuk memperbarui armada melalui pengadaan pesawat generasi baru, khususnya Boeing 737 MAX, guna menggantikan sebagian armada Boeing 737-800NG yang semakin menua, mendukung efisiensi operasional, dan meningkatkan produktivitas armada. Di tengah volatilitas harga bahan bakar, fluktuasi nilai tukar, keterbatasan pasokan pesawat, dan ketidakpastian permintaan pasar, pemilihan metode pengadaan pesawat yang tepat menjadi penting untuk menjaga stabilitas keuangan dan keberlanjutan operasional perusahaan. Pascarestrukturisasi, Garuda Indonesia perlu lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi. Pengadaan pesawat merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan komitmen modal besar dan berdampak langsung terhadap arus kas, struktur biaya, serta kewajiban jangka panjang perusahaan. Secara umum, pengadaan pesawat dapat dilakukan melalui pembelian langsung atau skema sewa, seperti sale and leaseback, operating lease, dan financial lease. Setiap alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari sisi kebutuhan dana awal, struktur pembayaran, risiko kepemilikan, fleksibilitas operasional, dan manfaat ekonomi pada akhir periode evaluasi. Evaluasi keputusan lease versus buy dalam pengadaan pesawat Boeing 737 MAX pada Garuda Indonesia dilakukan dengan metode Discounted Cash Flow melalui perhitungan Net Present Value untuk membandingkan empat alternatif pengadaan pesawat, yaitu direct purchase, sale and leaseback, operating lease, dan financial lease. Model keuangan dalam penelitian ini mencakup komponen arus kas yang relevan, antara lain harga pesawat, pembayaran sewa, biaya operasi, biaya perawatan, biaya pendanaan, dampak pajak, serta nilai residu atau terminal residual value pada alternatif yang memiliki manfaat ekonomi kepemilikan. Analisis SWOT juga digunakan sebagai kerangka pendukung untuk menilai strengths, weaknesses, opportunities, dan threats dari alternatif sewa versus beli berdasarkan kondisi internal Garuda Indonesia dan lingkungan bisnis eksternal. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh alternatif leasing memberikan nilai finansial yang lebih baik dibandingkan direct purchase. Pada skenario dasar, direct purchase menghasilkan NPV sebesar USD 38,569 juta dan digunakan sebagai tolok ukur. Sale and leaseback menghasilkan NPV sebesar USD 44,041 juta dengan NAL NPV sebesar USD 5,472 juta. Operating lease menghasilkan NPV sebesar USD 47,920 juta dengan NAL NPV sebesar USD 9,351 juta. Sementara itu, financial lease menghasilkan NPV tertinggi sebesar USD 48,047 juta dan NAL NPV tertinggi sebesar USD 9,478 juta. Berdasarkan hasil tersebut, financial lease menjadi alternatif pengadaan pesawat yang paling menarik secara finansial dalam asumsi dasar penelitian ini. Penelitian ini juga melakukan sensitivity analysis terhadap beberapa variabel utama, yaitu nilai tukar, harga bahan bakar, WACC, nilai residu, dan harga sewa dasar. Financial lease tetap menjadi alternatif yang paling kuat pada sebagian besar skenario, terutama pada perubahan nilai tukar dan harga bahan bakar. Namun, perubahan WACC, nilai residu, dan harga sewa dasar dapat memengaruhi hasil akhir, sehingga rekomendasi perlu mempertimbangkan risiko nilai residu, struktur pembiayaan, kondisi pasar leasing, serta ketersediaan penawaran komersial terbaru.