Peningkatan pengambilan airtanah dikhawatirkan memicu penurunan muka airtanah yang signifikan dan risiko degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pemompaan serta mengoptimalkan debit pengambilan airtanah agar tetap mematuhi kriteria zonasi konservasi airtanah yang ditetapkan pemerintah.
Penelitian menggunakan pendekatan pemodelan numerik aliran airtanah pada skala lokal dengan perangkat lunak MODFLOW-NWT. Untuk mencapai solusi ekstraksi yang paling efisien, dilakukan analisis optimasi otomatis menggunakan perangkat lunak GWM-VI (Groundwater Management – Version Independent) yang mengintegrasikan simulasi aliran ke dalam kerangka kerja optimasi berbasis fungsi tujuan dan batas teknis (constraints). Model dikonstruksi dengan mengintegrasikan data geologi, log pemboran, dan survei geofisika untuk merepresentasikan sistem akuifer multilapisan. Proses kalibrasi dilakukan pada kondisi tunak dan transien untuk memastikan akurasi model sebelum digunakan dalam simulasi skenario hingga tahun 2031.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit pemompaan maksimal berpotensi menyebabkan penurunan muka airtanah (MAT) melampaui ambang batas 40% pada tahun 2026, yang mengubah status menjadi zona rawan. Melalui pendekatan optimasi matematis berbasis matriks respons pada GWM-VI, didapatkan kombinasi debit optimal yang mampu menjaga seluruh titik pengamatan tetap berada dalam zona aman hingga akhir periode proyeksi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa evaluasi kuantitatif respons sistem akuifer untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di area industri.
Perpustakaan Digital ITB