Perubahan iklim dapat mengubah karakteristik hujan ekstrem dan menurunkan
keandalan hujan rancangan yang disusun hanya berdasarkan data historis. Penelitian
ini menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap karakteristik hujan di tiga
wilayah hujan dominan Indonesia, yaitu Region A yang diwakili Stasiun Meteorologi
Tanjung Priok, Region B yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda,
dan Region C yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Babullah. Data observasi
BMKG periode 1990–2020 digunakan sebagai baseline lokal, sedangkan proyeksi
perubahan iklim diperoleh dari keluaran CMIP6 skenario SSP2-4.5 pada periode
historical (1990–2014), near future (2030–2060), dan far future (2070–2100).
Analisis dilakukan melalui validasi model historis, pendekatan delta change, Annual
Maximum Series (AMS), distribusi probabilitas ekstrem, kurva Intensity-DurationFrequency (IDF), indikator I90 dan I90c, jumlah hari ekstrem, time series total hujan
tahunan, Probability Distribution Function (PDF), skewness, nilai kuantil, serta
kontribusi bottom 25%, bottom 50%, middle 50%, dan top 10% kejadian hujan. Hasil
validasi menunjukkan bahwa data historical CMIP6 mampu merepresentasikan pola
intensitas hujan rancangan dengan nilai NSE sebesar 0,777 pada Region A, 0,965
pada Region B, dan 0,985 pada Region C. Hasil evaluasi nilai absolut menunjukkan
PBIAS sebesar ?31,49% pada Region A, ?8,13% pada Region B, dan 3,39% pada
Region C, yang secara berurutan menunjukkan underestimation cukup besar pada
Region A, underestimation lebih rendah pada Region B, dan overestimation ringan
pada Region C. Region A menunjukkan penurunan IDF pada near future dan
perubahan yang lebih lemah pada far future, tetapi indikator ekstrem harian dan
bagian atas distribusi tetap menunjukkan peningkatan. Region B memperlihatkan
sinyal peningkatan hujan ekstrem yang paling konsisten, terutama pada far future dan
periode ulang yang lebih besar. Region C menunjukkan respons yang lebih
kompleks, dengan karakter hujan basah dan kontribusi hujan intensitas tinggi yang
tetap dominan. Analisis PDF menunjukkan bahwa distribusi curah hujan harian pada
ketiga region bersifat right-skewed. Kelompok kejadian top 10% menyumbang
sekitar 35,03–40,18% dari total volume hujan, jauh lebih besar daripada kelompok
bottom 25% dan bottom 50%, serta secara umum sebanding dengan kelompok
middle 50%. Region B menunjukkan penguatan ekor kanan distribusi paling jelas,
ii
Region A menunjukkan penguatan bagian atas distribusi terutama pada far future,
sedangkan Region C mempertahankan karakter distribusi basah dan right-skewed
sejak periode historical. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak
hanya memengaruhi hujan rancangan pada kurva IDF, tetapi juga mengubah struktur
distribusi curah hujan harian. Oleh karena itu, evaluasi dan pembaruan dasar hujan
rancangan perlu mempertimbangkan perbedaan sistem hujan dominan, perubahan
struktur distribusi hujan harian, indikator ekstrem harian, serta ketidakpastian model
iklim untuk mendukung perencanaan drainase dan infrastruktur air hujan yang lebih
adaptif.
Perpustakaan Digital ITB