digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak Inggris
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Perubahan iklim dapat mengubah karakteristik hujan ekstrem dan menurunkan keandalan hujan rancangan yang disusun hanya berdasarkan data historis. Penelitian ini menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap karakteristik hujan di tiga wilayah hujan dominan Indonesia, yaitu Region A yang diwakili Stasiun Meteorologi Tanjung Priok, Region B yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, dan Region C yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Babullah. Data observasi BMKG periode 1990–2020 digunakan sebagai baseline lokal, sedangkan proyeksi perubahan iklim diperoleh dari keluaran CMIP6 skenario SSP2-4.5 pada periode historical (1990–2014), near future (2030–2060), dan far future (2070–2100). Analisis dilakukan melalui validasi model historis, pendekatan delta change, Annual Maximum Series (AMS), distribusi probabilitas ekstrem, kurva Intensity-DurationFrequency (IDF), indikator I90 dan I90c, jumlah hari ekstrem, time series total hujan tahunan, Probability Distribution Function (PDF), skewness, nilai kuantil, serta kontribusi bottom 25%, bottom 50%, middle 50%, dan top 10% kejadian hujan. Hasil validasi menunjukkan bahwa data historical CMIP6 mampu merepresentasikan pola intensitas hujan rancangan dengan nilai NSE sebesar 0,777 pada Region A, 0,965 pada Region B, dan 0,985 pada Region C. Hasil evaluasi nilai absolut menunjukkan PBIAS sebesar ?31,49% pada Region A, ?8,13% pada Region B, dan 3,39% pada Region C, yang secara berurutan menunjukkan underestimation cukup besar pada Region A, underestimation lebih rendah pada Region B, dan overestimation ringan pada Region C. Region A menunjukkan penurunan IDF pada near future dan perubahan yang lebih lemah pada far future, tetapi indikator ekstrem harian dan bagian atas distribusi tetap menunjukkan peningkatan. Region B memperlihatkan sinyal peningkatan hujan ekstrem yang paling konsisten, terutama pada far future dan periode ulang yang lebih besar. Region C menunjukkan respons yang lebih kompleks, dengan karakter hujan basah dan kontribusi hujan intensitas tinggi yang tetap dominan. Analisis PDF menunjukkan bahwa distribusi curah hujan harian pada ketiga region bersifat right-skewed. Kelompok kejadian top 10% menyumbang sekitar 35,03–40,18% dari total volume hujan, jauh lebih besar daripada kelompok bottom 25% dan bottom 50%, serta secara umum sebanding dengan kelompok middle 50%. Region B menunjukkan penguatan ekor kanan distribusi paling jelas, ii Region A menunjukkan penguatan bagian atas distribusi terutama pada far future, sedangkan Region C mempertahankan karakter distribusi basah dan right-skewed sejak periode historical. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi hujan rancangan pada kurva IDF, tetapi juga mengubah struktur distribusi curah hujan harian. Oleh karena itu, evaluasi dan pembaruan dasar hujan rancangan perlu mempertimbangkan perbedaan sistem hujan dominan, perubahan struktur distribusi hujan harian, indikator ekstrem harian, serta ketidakpastian model iklim untuk mendukung perencanaan drainase dan infrastruktur air hujan yang lebih adaptif.