digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abtrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Penelitian ini menganalisis perilaku konservasi air siswa SMA Negeri X di Bandung menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) dengan membandingkan konteks rumah dan sekolah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dan non-probability sampling, data valid berhasil dikumpulkan dari 139 responden siswa kelas XI yang berusia 17–18 tahun. Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda serta berbagai uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model TPB valid secara simultan dalam menjelaskan niat dan perilaku hemat air siswa. Namun, analisis parsial mengungkap dikotomi yang jelas: perilaku di rumah didorong oleh niat otonom, sedangkan perilaku di sekolah murni digerakkan oleh Persepsi Kontrol Perilaku (PBC). Skor PBC dan tindakan aktual di sekolah terbukti secara signifikan lebih tinggi dibandingkan di rumah. Temuan ini tidak disebabkan oleh otomatisasi teknologi karena sekolah masih menggunakan keran manual, melainkan dipicu oleh defisiensi pasokan air bersih harian dan air tanah yang berwarna kuning yang bertindak sebagai pemaksa situasional. Kondisi tersebut memicu fenomena kesenjangan terbalik (reverse gap) di sekolah, di mana tindakan aktual siswa secara signifikan melampaui niat awal mereka akibat batasan lingkungan yang mengambil alih kendali kognitif. Sebaliknya, tidak terdapat kesenjangan niat-perilaku yang signifikan dalam konteks rumah. Pengujian tambahan membuktikan bahwa faktor sosio-demografi (gender, uang saku, pendidikan orang tua), paparan kurikulum akademik (Biologi/Geografi), riwayat krisis air domestik, dan kepadatan hunian tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku aktual siswa di sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan sumber daya efektif memaksa efisiensi perilaku secara pasif di sekolah. Pihak sekolah direkomendasikan untuk melakukan optimalisasi filtrasi air serta menerapkan kontrol rekayasa (engineering control) proaktif melalui pemasangan teknologi hemat air (seperti keran tekan otomatis atau aerator) untuk menjaga keberlanjutan konservasi di masa depan tanpa bergantung pada fluktuasi motivasi internal individu.