Sub-DAS Cisangkuy berlokasi di Kabupaten Bandung yang berperan sebagai daerah resapan air dan area penyangga untuk stabilitas lingkungan kawasan Bandung Raya. Namun, kondisi sub-DAS Cisangkuy saat ini menunjukkan penurunan fungsi yang ditandai dengan fluktuasi debit yang semakin ekstrem dan bencana hidrometeorologis yang sering terjadi. Perubahan iklim dan penggunaan lahan memperburuk kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan debit aliran sub-DAS Cisangkuy pada kondisi baseline, menganalisis perubahan debit aliran pada proyeksi masa depan, mengevaluasi pengaruh perubahan iklim dan tata guna lahan terhadap perubahan debit aliran, serta menganalisis potensi dampak hidrologi berupa banjir dan kekeringan berdasarkan perubahan karakteristik debit. Dalam penelitian ini, digunakan model hidrologi Soil and Water Assessment Tool versi terbaru (SWAT+) untuk mensimulasikan debit aliran serta menganalisis pengaruh berbagai skenario perubahan iklim dan tata guna lahan terhadap respons hidrologi DAS. Empat skenario diterapkan dalam analisis, yaitu: (1) skenario dasar (baseline) yang merepresentasikan kondisi eksisting dengan menggunakan data iklim dan tata guna lahan historis pada periode simulasi 2013-2023; (2) skenario emisi rendah yang mengombinasikan proyeksi iklim SSP1-2,6 dengan tata guna lahan hasil proyeksi; (3) skenario emisi menengah dengan proyeksi iklim SSP2-4,5 dan tata guna lahan proyeksi; serta (4) skenario emisi tinggi yang menggunakan proyeksi iklim SSP5-8,5 dan tata guna lahan proyeksi. Tata guna lahan diproyeksikan melalui pemodelan menggunakan perangkat lunak TerrSet (LiberaGIS) pada tahun 2040, sedangkan data proyeksi iklim bersumber dari kerangka Coupled Model Intercomparison Project Phase 6 (CMIP6) pada periode 2030-2050. Hasil simulasi baseline menggunakan SWAT+ menunjukkan bahwa pola debit aliran sub-DAS Cisangkuy mengikuti pola musiman, dengan debit tertinggi terjadi pada musim hujan dan debit terendah pada musim kemarau. Model menunjukkan kinerja yang memenuhi kriteria dengan nilai NSE sebesar 0,450 pada periode kalibrasi dan 0,401 pada periode validasi, serta nilai PBIAS masing-masing sebesar -2,23% dan 0,99%. Proyeksi masa depan menunjukkan peningkatan debit aliran dibandingkan kondisi baseline, dengan debit rata-rata meningkat sebesar 53,8958,84% dan debit maksimum meningkat sebesar 95,25–106,80%. Sementara itu, debit minimum meningkat sebesar 13,97% pada skenario SSP1-2,6 dan 6,75% pada SSP2-4,5, tetapi menurun sebesar 23,75% pada SSP5-8,5. Peningkatan debit tersebut dipengaruhi oleh kenaikan curah hujan pada seluruh skenario perubahan iklim yang diperkuat oleh perubahan tata guna lahan, terutama peningkatan luas sawah, lahan pertanian, dan kawasan terbangun yang cenderung meningkatkan limpasan permukaan. Berdasarkan perubahan karakteristik debit aliran, sub-DAS Cisangkuy diproyeksikan mengalami peningkatan risiko banjir akibat kenaikan debit puncak pada seluruh skenario masa depan. Selain itu, penurunan debit minimum pada SSP5-8,5 mengindikasikan adanya potensi peningkatan risiko kekeringan pada musim kemarau. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim dan tata guna lahan berpotensi meningkatkan variabilitas hidrologi sub-DAS Cisangkuy pada masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB