Dalam industri jasa keuangan, kinerja bisnis tidak hanya ditentukan oleh strategi, posisi pasar, dan kemampuan teknis, tetapi juga oleh kemampuan orang-orang di dalam organisasi untuk bekerja sama secara efektif. Hal ini menjadi semakin penting dalam perusahaan sekuritas, di mana pekerjaan sehari-hari melibatkan pergerakan pasar yang cepat, respons terhadap kebutuhan klien, kepatuhan terhadap regulasi, serta koordinasi yang erat antarperan. Dalam sebuah tim bisnis institusional, satu mandat klien dapat melibatkan fungsi sales, dealing, corporate access, account management, dan tindak lanjut operasional. Oleh karena itu, efektivitas kerja tim menjadi kondisi penting untuk mendukung kualitas layanan dan kinerja bisnis.
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana budaya di tingkat tim membentuk efektivitas kerja tim dalam tim bisnis institusional di PT. WALL STREET NY Securities. Perusahaan memiliki mekanisme formal untuk membangun budaya, termasuk town hall, kerangka nilai perusahaan, rapat internal, dan program pengembangan karyawan. Namun, isu bisnis yang diidentifikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai formal tersebut tidak selalu dirasakan secara konsisten dalam pekerjaan sehari-hari tim. Komunikasi sering kali berjalan secara silo, informasi tidak selalu dibagikan secara terbuka, dan sebagian anggota tim tidak memiliki visibilitas yang sama terhadap diskusi klien, peluang bisnis, dan prioritas internal. Kondisi ini menciptakan jarak antara nilai-nilai formal organisasi dan praktik kerja aktual di dalam tim.
Penelitian ini dipandu oleh tiga pertanyaan penelitian: bagaimana anggota tim bisnis institusional memandang budaya perusahaan, bagaimana budaya memengaruhi dinamika kerja tim, dan karakteristik apa yang mendefinisikan kerja tim yang efektif sebagaimana dialami dan dinilai oleh anggota tim. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dalam paradigma interpretivis. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan delapan partisipan, yang terdiri dari lima anggota tim bisnis institusional dan tiga partisipan yang memberikan konteks organisasi yang lebih luas, yaitu Direktur yang membawahi tim, perwakilan HR, dan kepala tim lain yang memiliki keterkaitan erat dengan tim tersebut. Data
dianalisis menggunakan thematic analysis berdasarkan enam tahapan Braun dan Clarke.
Temuan penelitian menunjukkan empat tema utama. Pertama, terdapat kesenjangan yang terus muncul antara budaya yang dinyatakan secara formal dan budaya yang dialami dalam praktik. Partisipan mengakui bahwa perusahaan telah mengomunikasikan nilai-nilai seperti transparansi, kerja tim, dan orientasi pada klien, tetapi nilai-nilai tersebut tidak selalu tercermin dalam praktik kerja sehari-hari tim. Kedua, information gatekeeping muncul sebagai pola di tingkat tim. Informasi sering kali terpusat pada level kepemimpinan atau harus diperoleh melalui inisiatif pribadi, sehingga memengaruhi koordinasi, respons terhadap klien, dan kolaborasi lintas tim. Ketiga, rendahnya psychological safety memengaruhi kesediaan anggota tim untuk berbicara, menyampaikan kekhawatiran, atau menantang keputusan. Beberapa partisipan menjadi lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat karena masukan tidak selalu diterima secara konstruktif. Keempat, kepemimpinan muncul sebagai penerjemah utama budaya. Temuan menunjukkan bahwa nilai-nilai formal baru menjadi bermakna di tingkat tim ketika nilai tersebut diperkuat melalui perilaku kepemimpinan sehari-hari, rutinitas komunikasi, dan role modelling.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan implementation roadmap untuk memperkuat kolaborasi berbasis tim. Roadmap ini berfokus pada dua area yang saling terhubung, yaitu fondasi struktural dan aspek budaya serta kapabilitas. Fondasi struktural mencakup regular team alignment, shared client visibility, dan role ownership yang lebih jelas. Aspek budaya dan kapabilitas mencakup psychological safety, knowledge-sharing, dan cross-team collaboration. Tindakan-tindakan ini diusulkan sebagai rutinitas praktis yang dapat membantu tim menerjemahkan nilai-nilai organisasi ke dalam kebiasaan kerja sehari-hari.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tim bisnis institusional tidak kekurangan individu yang kapabel. Efektivitas kerja tim lebih banyak dipengaruhi oleh sejauh mana lingkungan kerja mendukung komunikasi yang terbuka, shared ownership, dan tindakan yang terkoordinasi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa pemahaman kualitatif mengenai bagaimana nilai-nilai perusahaan diterjemahkan
— atau tidak diterjemahkan — ke dalam budaya di tingkat tim dalam konteks perusahaan sekuritas di Indonesia. Penelitian ini juga menambah literatur empiris yang masih terbatas mengenai budaya organisasi dan efektivitas kerja tim dalam industri pasar modal Indonesia, khususnya melalui bukti studi kasus kualitatif. Secara praktis, temuan ini menunjukkan bahwa penguatan kerja tim membutuhkan lebih dari sekadar komunikasi nilai secara formal. Dibutuhkan penguatan kepemimpinan yang konsisten dan rutinitas harian yang membuat keterbukaan, kolaborasi, dan tanggung jawab bersama terlihat dalam cara tim bekerja.
Perpustakaan Digital ITB