Kota Bima merupakan salah satu wilayah yang secara berulang mengalami kejadian banjir hampir setiap tahun. Peristiwa banjir besar yang terjadi pada tahun 2016 dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, kawasan permukiman, serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Salah satu faktor utama penyebab banjir adalah keterbatasan kapasitas Sungai Melayu dalam menampung debit aliran yang berasal dari bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Melayu, sehingga menyebabkan terjadinya limpasan ke wilayah sekitarnya.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I (BBWS NT I) telah menerapkan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai Melayu sepanjang ±6,6 km serta pembangunan parapet pada beberapa segmen yang memiliki tingkat kerawanan banjir tinggi dengan total panjang sekitar ±1,9 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas biaya dari penerapan penanganan tersebut dalam mengurangi potensi kerugian banjir pada berbagai kala ulang debit banjir, yaitu 2, 5, 10, 25, dan 50 tahun. Selain penanganan yang telah dilaksanakan oleh BBWS NT I, penelitian ini juga menganalisis beberapa alternatif penanganan banjir lainnya sebagai pembanding guna menilai tingkat efektivitas biaya dan kelayakan ekonomi masing-masing penanganan. Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan Cost Effectiveness Ratio (CER) dan Benefit–Cost Ratio (BCR) guna menilai tingkat efisiensi masing-masing skenario penanganan.
Kajian ini dilakukan pada segmen Sungai Melayu sepanjang ±6,6 km. Analisis diawali dengan karakterisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menentukan debit aliran masuk menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Penentuan debit banjir rencana dilakukan melalui analisis hidrologi berdasarkan data curah hujan stasiun pengamatan (groundstation) selama periode 2011–2024 (14 tahun). Debit banjir rencana untuk kala ulang 2, 5, 10, 25, dan 50 tahun diperoleh melalui pemodelan HEC-HMS dengan menggunakan Metode Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN) yang telah dikalibrasi terhadap debit bankfull sungai.
Selanjutnya, analisis hidraulika dilakukan dengan menggunakan debit rencana masing-masing kala ulang, yaitu sebesar 30,7 m³/det untuk kala ulang 2 tahun, 49,4 m³/det untuk 5 tahun, 62,9 m³/det untuk 10 tahun, 80,7 m³/det untuk 25 tahun, dan
iii
94,4 m³/det untuk 50 tahun. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS 2D untuk memperoleh sebaran luas genangan dan kedalaman genangan banjir. Simulasi dilakukan pada 4 (empat) skenario, yaitu skenario 1 berupa kondisi eksisting, skenario 2 berupa normalisasi sungai, skenario 3 berupa kombinasi normalisasi dan parapet serta skenario 4 berupa kombinasi normalisasi, parapet, dan kolam retensi.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas dan kedalaman genangan banjir meningkat seiring bertambahnya kala ulang pada seluruh skenario. Pada kondisi eksisting (Skenario 1), luas genangan meningkat dari 177,79 ha (Q2) menjadi 287,87 ha (Q50) dengan kedalaman maksimum dari 3,70 m menjadi 4,60 m. Penerapan normalisasi sungai (Skenario 2) mampu menurunkan luas genangan menjadi 76,41–217,72 ha dan kedalaman menjadi 2,58–3,93 m. Penambahan parapet (Skenario 3) menghasilkan luas genangan sebesar 74,19–212,23 ha dengan kedalaman 2,56–3,80 m, menunjukkan penurunan yang relatif terbatas dibandingkan Skenario 2. Kombinasi normalisasi, parapet, dan kolam retensi (Skenario 4) memberikan hasil paling optimal dengan luas genangan terendah, yaitu 71,18–140,01 ha dan kedalaman maksimum 2,22–3,29 m pada seluruh kala ulang.
Berdasarkan hasil analisis ekonomi, Skenario 2 (normalisasi) menunjukkan kinerja paling efisien dengan nilai CER berkisar antara Rp107,04–154,70 juta/ha dan BCR sebesar 0,69–1,40, di mana kelayakan ekonomi mulai tercapai pada kala ulang Q10 hingga Q50 (BCR > 1). Skenario 3 (kombinasi normalisasi dan parapet) memiliki nilai CER lebih tinggi, yaitu sekitar Rp124,12–170,19 juta/ha, dengan BCR sebesar 0,59–1,26, yang menunjukkan kelayakan ekonomi terbatas dan umumnya baru tercapai pada kala ulang menengah hingga besar. Sementara itu, Skenario 4 (kombinasi normalisasi, parapet dan kolam retensi) meskipun memberikan efektivitas teknis tertinggi, menunjukkan CER paling besar yakni sekitar Rp362,90–509,38 juta/ha dan BCR sangat rendah sebesar 0,15–0,34, sehingga dinilai tidak layak secara ekonomi. Dengan demikian, dari perspektif efisiensi biaya dan kelayakan ekonomi, Skenario 2 merupakan alternatif paling rasional dibandingkan skenario penanganan lainnya.
Secara keseluruhan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan Skenario 3, yang mengombinasikan normalisasi sungai dengan pembangunan parapet, belum memberikan peningkatan kinerja yang berarti dibandingkan Skenario 2 yang hanya menerapkan normalisasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberadaan parapet belum bekerja secara optimal dalam mereduksi genangan banjir, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut terkait penentuan lokasi, elevasi, dan konfigurasi parapet agar fungsinya dapat lebih efektif. Di sisi lain, penambahan kolam retensi terbukti mampu menurunkan debit puncak banjir pada wilayah hulu dan tengah daerah aliran sungai, namun belum sepenuhnya mengatasi genangan di bagian hilir yang masih dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Oleh karena itu, diperlukan penerapan strategi penanganan tambahan yang terintegrasi di wilayah hilir guna meningkatkan kinerja pengendalian banjir secara menyeluruh.
Perpustakaan Digital ITB