Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang berada di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan dan memiliki karakteristik topografi curam di bagian hulu serta dataran rendah di wilayah hilir. Sungai Air Bengkulu sebagai salah satu sungai utama di provinsi ini melintasi wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu. Dalam beberapa dekade terakhir, DAS Bengkulu menunjukkan kecenderungan penurunan fungsi hidrologis dan kualitas lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi serta besarnya kejadian banjir, salah satunya peristiwa banjir besar pada April 2019 dan Agustus 2022.
Banjir yang terjadi pada Sungai Air Bengkulu disebabkan oleh kombinasi faktor hidrologis dan hidraulis, antara lain besarnya debit banjir akibat curah hujan ekstrem, perubahan karakteristik DAS, serta keterbatasan kapasitas penampang sungai yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi, khususnya di bagian muara. Kondisi tersebut menyebabkan aliran sungai tidak mampu mengalirkan debit banjir secara optimal sehingga terjadi limpasan dan genangan di wilayah perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu telah melaksanakan upaya pengendalian banjir secara bertahap dan komprehensif. Namun demikian, kajian teknis terintegrasi tetap diperlukan untuk mendukung upaya penanganan yang telah dan akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Air Bengkulu berdasarkan kejadian banjir aktual melalui pemodelan, menilai pengaruh upaya pengendalian banjir terhadap reduksi banjir, serta mengkaji alternatif upaya tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengendalian banjir yang efektif dan efisien.
Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS untuk memperoleh debit banjir rencana, diawali dengan pengujian kualitas data curah hujan melalui uji konsistensi, uji outlier, uji independensi. Data curah hujan yang digunakan berasal dari empat pos hujan, yaitu PCH Bajak, Taba Mutung, Tanjung Jaya, dan Batu Raja dengan panjang data 17 tahun (2008–2024). Curah hujan wilayah dihitung menggunakan metode Polygon Thiessen, kemudian dilakukan analisis distribusi frekuensi hujan rencana dengan beberapa metode distribusi dan uji kesesuaian untuk menentukan distribusi terbaik. Perhitungan hujan efektif dilakukan untuk mendapatkan nilai Curve Number berdasarkan
ii
karakteristik DAS, tutupan lahan, dan jenis tanah. Selanjutnya, debit banjir rencana dihitung menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Snyder yang telah dikalibrasi terhadap kejadian banjir observasi. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir rencana kala ulang 50 tahun (Q50) sebesar 879,4 m³/s digunakan sebagai dasar dalam analisis hidraulika.
Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS dua dimensi untuk mensimulasikan kondisi genangan banjir eksisting dan beberapa skenario penanganan banjir. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa kapasitas Sungai Air Bengkulu pada kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana Q50, yang ditunjukkan oleh luasan genangan mencapai 1.439,8 ha dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,66 hingga 3,66 meter. Dari enam skenario penanganan yang disimulasikan, skenario keenam yang merupakan kombinasi peningkatan tanggul eksisting dan normalisasi sungai sepanjang 1,5 km di bagian muara menunjukkan kinerja terbaik dengan reduksi luas genangan sebesar 74,3%. Skenario ini dinilai memenuhi aspek efektivitas dalam pengurangan banjir serta efisiensi dari sisi pemeliharaan. Selain itu, hasil pemodelan menguatkan hipotesis bahwa penyempitan atau bottleneck di bagian muara sungai merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam perencanaan pengendalian banjir Sungai Air Bengkulu secara berkelanjutan serta mendukung penyusunan mikrozonasi kawasan berisiko tinggi bencana banjir di Kota Bengkulu.
Perpustakaan Digital ITB