digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Anas M. M. Awad
PUBLIC Open In Flipbook Yuliani Astuti

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi dan paling merusak di Indonesia, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu, Jawa Barat. Urbanisasi yang pesat, perubahan tata guna lahan, serta praktik mitigasi banjir yang belum memadai di wilayah ini memperparah dampak bencana, sehingga menyebabkan kerugian jiwa dan harta benda yang signifikan. Penelitian ini menyajikan suatu kerangka pemodelan terintegrasi yang menghubungkan simulasi hidrologi–hidraulik dengan penilaian kerentanan fisik bangunan pada tingkat individu untuk mengevaluasi bagaimana perubahan tutupan lahan akibat aforestasi memodifikasi bahaya banjir serta bagaimana variasi bahaya tersebut diterjemahkan menjadi potensi kerusakan struktural pada berbagai periode ulang hujan. Penelitian ini menggunakan model hidrologi (HEC-HMS) dan hidraulik (HEC-RAS) yang terintegrasi untuk mensimulasikan dampak enam skenario aforestasi, yaitu No Forest (NF), Medium Afforestation (MF), aforestasi berdasarkan Rencana Tata Ruang Bandung 2029 (F-2029), Riverbank Afforestation (RF), Skenario Tata Ruang 2029 (SP-2029), No Built-up (NB), serta Land Cover 2021 (LC-2021) sebagai kondisi dasar. Simulasi dilakukan menggunakan enam periode ulang hujan (2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun), yang diturunkan dari 32 tahun data hujan maksimum harian yang dikumpulkan dari 11 stasiun hujan. Kalibrasi model untuk kejadian banjir November 2021 menunjukkan kinerja yang sangat baik (NSE = 0,932; R² = 0,93; PBIAS = 2,34%), yang mengonfirmasi reliabilitas model. Perubahan tutupan lahan menunjukkan dampak yang signifikan: urbanisasi meningkatkan risiko banjir, sementara aforestasi meningkatkan kapasitas retensi air. Deforestasi dan peningkatan permukaan kedap air meningkatkan limpasan, debit puncak, dan kedalaman genangan. Sebaliknya, aforestasi menurunkan besaran banjir melalui peningkatan infiltrasi dan kekasaran permukaan. Dari seluruh skenario yang diuji, aforestasi sempadan sungai (RF) dan pengurangan area terbangun (NB) merupakan strategi yang paling efektif dalam mitigasi banjir. Sebagai contoh, skenario NB mampu menurunkan debit puncak sekitar 90% dan luas genangan lebih dari 80% dibandingkan kondisi dasar tahun 2021. Sebaliknya, skenario pengurangan tutupan hutan (NF) dan ekspansi urban terencana (SP-2029) menyebabkan peningkatan limpasan dan risiko banjir, meskipun target kehutanan yang ditetapkan bersifat moderat. Evaluasi kinerja model berdasarkan kejadian banjir November 2021 menunjukkan kesesuaian yang kuat antara debit dan pola genangan hasil simulasi dengan kondisi teramati, khususnya dalam mengidentifikasi wilayah rawan banjir seperti Margahayu, Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Simulasi pada periode ulang 2 dan 5 tahun merepresentasikan kejadian banjir yang lebih sering terjadi namun dengan magnitudo yang lebih rendah dibandingkan periode ulang yang lebih besar. Pada skala lokal, dilakukan penilaian kerentanan bangunan secara rinci terhadap 1.154 bangunan di Desa Dayeuhkolot, salah satu wilayah paling rawan banjir di Bandung. Data hasil survei lapangan dan pemetaan drone menghasilkan 12 indikator struktural yang kemudian diintegrasikan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membangun Indeks Kerentanan Fisik (Physical Vulnerability Index/PVI) serta kurva kedalaman–kerusakan menggunakan fungsi logistik. Verifikasi empiris terhadap model referensi internasional (HAZUS, JRC, Englhardt, Mesta, dan Dutta) menunjukkan kesesuaian yang kuat (R² = 0,881–0,967; Spearman ? ? 1,0), yang mengonfirmasi validitas kurva kerentanan yang dikembangkan dalam konteks tipologi bangunan Dayeuhkolot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis material, jumlah lantai, dan kategori bangunan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat kerusakan akibat banjir. Bangunan kayu satu lantai cenderung mengalami kerusakan hampir total pada kedalaman genangan di atas 2–3 meter, sedangkan bangunan beton bertulang dan bertingkat lebih tahan terhadap dampak banjir. Integrasi antara aforestasi dan pemodelan kerentanan bangunan menghasilkan penurunan risiko banjir struktural yang signifikan, di mana penerapan skenario River Forest (RF) dan perbaikan tutupan lahan mampu mengurangi jumlah bangunan dengan kerentanan sangat tinggi lebih dari 95%. Penelitian ini menawarkan kerangka pemodelan banjir terintegrasi untuk DAS tropis perkotaan serta menyediakan dasar berbasis data bagi perencanaan tata guna lahan dan kebijakan pengurangan risiko bencana. Temuan ini menegaskan bahwa restorasi tutupan lahan yang dipadukan dengan peningkatan ketahanan bangunan merupakan strategi kunci dalam mitigasi banjir di DAS Citarum Hulu, terutama di tengah meningkatnya variabilitas curah hujan dan tekanan urbanisasi.