Sungai Batang Agam merupakan sungai alluvial yang memiliki karakteristik bermeander
dengan palung relatif dalam serta melintasi kawasan padat penduduk,
perkotaan, lahan pertanian, dan fasilitas umum di wilayah Kota Payakumbuh dan
sekitarnya. Sungai ini menjadi bagian penting dalam sistem Daerah Aliran Sungai
(DAS) Batang Agam, dengan hulu berada di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam,
serta hilir yang melintasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Kota
Payakumbuh sebelum bermuara ke Sungai Batang Sinamar. Secara alami, dinamika
fluvial berupa erosi, transportasi sedimen, dan deposisi membentuk morfologi
sungai. Namun, aktivitas manusia seperti perubahan tata guna lahan di daerah hulu
dan kegiatan penambangan pasir di bagian hilir telah mempercepat
ketidakseimbangan morfologi sungai, yang memicu erosi dasar, longsoran tebing,
dan sedimentasi berlebih di beberapa segmen sungai.
Permasalahan utama yang terjadi di Sungai Batang Agam Hilir adalah longsoran
tebing sungai yang mengakibatkan perubahan alur, berkurangnya lahan pertanian,
serta ancaman terhadap permukiman masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh
peningkatan debit dan kecepatan aliran akibat perubahan tata guna lahan di hulu serta
gangguan keseimbangan sedimentasi akibat aktivitas penambangan pasir. Untuk
mengurangi dampak tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai
Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah melaksanakan program
penanganan sungai berupa normalisasi, pembangunan tanggul, dan perkuatan tebing
sepanjang ±2,85 km pada periode 2017–2020 (Tahap I) serta sepanjang ±1,2 km
pada tahun 2025 (Tahap II) pada titik-titik rawan di Sungai Batang Agam Hilir.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Batang
Agam akibat proses sedimentasi dan keruntuhan tebing, serta mengevaluasi
efektivitas penanganan sungai yang telah dilakukan terhadap laju sedimentasi
stabilitas, dan dinamika morfologi sungai. Analisis dilakukan menggunakan
pemodelan hidraulika dan transportasi sedimen satu dimensi (1D) dan dua dimensi
(2D) dengan perangkat lunak HEC-RAS yang telah melalui proses kalibrasi dan
validasi. Estimasi suplai sedimen tahunan dihitung menggunakan pendekatan
iii
berbasis erosi lahan Universal Soil Loss Equation (USLE), sedangkan simulasi
transportasi sedimen menggunakan kombinasi fungsi transport Meyer–Peter Müller
dan metode kecepatan jatuh sedimen Wu dan Wang. Selain itu, pengaruh keruntuhan
tebing terhadap dinamika sedimentasi dianalisis dengan mempertimbangkan Bank
Stability and Toe Erosion Model (BSTEM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan sungai yang telah dilakukan
efektif dalam meningkatkan kapasitas sungai dan mengurangi limpasan banjir kala
ulang 25 tahun, dengan penurunan tinggi muka air banjir mencapai sekitar 1,1 m.
Estimasi suplai sedimen tahunan berdasarkan pendekatan USLE menunjukkan nilai
sebesar 67.335 ton/tahun, sedangkan hasil simulasi model dengan debit kala ulang
satu tahun menghasilkan nilai transport sedimen sebesar 54.597 ton/tahun. Secara
keseluruhan, penanganan sungai mampu mengurangi tingkat agradasi dan degradasi
dasar sungai hingga sekitar 15%. Namun demikian, peningkatan kecepatan aliran
pada beberapa segmen pasca penanganan, khususnya pada bagian tengah sungai,
menyebabkan peningkatan tegangan geser dasar yang memicu degradasi lokal.
Sebaliknya, pada segmen hulu dan hilir terjadi kecenderungan agradasi akibat
perubahan geometri lebar dasar sungai serta keberadaan bangunan pulau di hilir.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan dan perencanaan
penanganan Sungai Batang Agam secara berkelanjutan serta sebagai referensi dalam
evaluasi dampak morfologi sungai akibat intervensi manusia.
Perpustakaan Digital ITB