digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sungai Batang Agam merupakan sungai alluvial yang memiliki karakteristik bermeander dengan palung relatif dalam serta melintasi kawasan padat penduduk, perkotaan, lahan pertanian, dan fasilitas umum di wilayah Kota Payakumbuh dan sekitarnya. Sungai ini menjadi bagian penting dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Agam, dengan hulu berada di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, serta hilir yang melintasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar, dan Kota Payakumbuh sebelum bermuara ke Sungai Batang Sinamar. Secara alami, dinamika fluvial berupa erosi, transportasi sedimen, dan deposisi membentuk morfologi sungai. Namun, aktivitas manusia seperti perubahan tata guna lahan di daerah hulu dan kegiatan penambangan pasir di bagian hilir telah mempercepat ketidakseimbangan morfologi sungai, yang memicu erosi dasar, longsoran tebing, dan sedimentasi berlebih di beberapa segmen sungai. Permasalahan utama yang terjadi di Sungai Batang Agam Hilir adalah longsoran tebing sungai yang mengakibatkan perubahan alur, berkurangnya lahan pertanian, serta ancaman terhadap permukiman masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan debit dan kecepatan aliran akibat perubahan tata guna lahan di hulu serta gangguan keseimbangan sedimentasi akibat aktivitas penambangan pasir. Untuk mengurangi dampak tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah melaksanakan program penanganan sungai berupa normalisasi, pembangunan tanggul, dan perkuatan tebing sepanjang ±2,85 km pada periode 2017–2020 (Tahap I) serta sepanjang ±1,2 km pada tahun 2025 (Tahap II) pada titik-titik rawan di Sungai Batang Agam Hilir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan morfologi Sungai Batang Agam akibat proses sedimentasi dan keruntuhan tebing, serta mengevaluasi efektivitas penanganan sungai yang telah dilakukan terhadap laju sedimentasi stabilitas, dan dinamika morfologi sungai. Analisis dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dan transportasi sedimen satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan perangkat lunak HEC-RAS yang telah melalui proses kalibrasi dan validasi. Estimasi suplai sedimen tahunan dihitung menggunakan pendekatan iii berbasis erosi lahan Universal Soil Loss Equation (USLE), sedangkan simulasi transportasi sedimen menggunakan kombinasi fungsi transport Meyer–Peter Müller dan metode kecepatan jatuh sedimen Wu dan Wang. Selain itu, pengaruh keruntuhan tebing terhadap dinamika sedimentasi dianalisis dengan mempertimbangkan Bank Stability and Toe Erosion Model (BSTEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan sungai yang telah dilakukan efektif dalam meningkatkan kapasitas sungai dan mengurangi limpasan banjir kala ulang 25 tahun, dengan penurunan tinggi muka air banjir mencapai sekitar 1,1 m. Estimasi suplai sedimen tahunan berdasarkan pendekatan USLE menunjukkan nilai sebesar 67.335 ton/tahun, sedangkan hasil simulasi model dengan debit kala ulang satu tahun menghasilkan nilai transport sedimen sebesar 54.597 ton/tahun. Secara keseluruhan, penanganan sungai mampu mengurangi tingkat agradasi dan degradasi dasar sungai hingga sekitar 15%. Namun demikian, peningkatan kecepatan aliran pada beberapa segmen pasca penanganan, khususnya pada bagian tengah sungai, menyebabkan peningkatan tegangan geser dasar yang memicu degradasi lokal. Sebaliknya, pada segmen hulu dan hilir terjadi kecenderungan agradasi akibat perubahan geometri lebar dasar sungai serta keberadaan bangunan pulau di hilir. Kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan dan perencanaan penanganan Sungai Batang Agam secara berkelanjutan serta sebagai referensi dalam evaluasi dampak morfologi sungai akibat intervensi manusia.