digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Curah hujan yang tinggi, penurunan kapasitas sungai, kondisi topografi, serta perubahan tata guna lahan merupakan faktor utama penyebab banjir. Banjir yang terjadi pada periode 2019–2024 di Sungai Cisanggarung Hulu, Kabupaten Kuningan, telah mengakibatkan gangguan aktivitas masyarakat serta berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan pembangunan wilayah. Pengukuran debit observasi dilakukan untuk menentukan nilai awal koefisien kekasaran Manning sebagai masukan dalam proses kalibrasi debit banjir, dengan menggunakan debit bankfull Sungai Cisanggarung pada kala ulang 2 tahun (Q?). Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir pada seluruh dusun di Desa Andamui pada kondisi eksisting berada pada kelas sedang. Tingkat kerentanan yang ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan juga berada pada klasifikasi sedang, demikian pula dengan tingkat kapasitas masyarakat. Berdasarkan kombinasi parameter tersebut, tingkat risiko banjir di Desa Andamui termasuk dalam kategori risiko sedang. Sebagai upaya pengendalian banjir, dilakukan penanganan struktural berupa pengerukan dasar sungai dan pembangunan tanggul di Sungai Cisanggarung untuk meningkatkan kapasitas alur sungai. Penanganan ini mampu mereduksi banjir sebesar 43,39%, dengan penurunan luas genangan dari 0,51 km² menjadi 0,293 km². Namun demikian, kelas risiko banjir masih berada pada kategori sedang. Penanganan lanjutan dilakukan dengan pembangunan kolam retensi di Sungai Cijurey dengan kapasitas tampung sebesar 76.000 m³, yang mampu mereduksi banjir hingga 59,8%. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang lebih optimal, dilakukan tambahan pengerukan sedimen di Sungai Cijurey. Kombinasi penanganan tersebut menghasilkan kondisi tanpa genangan banjir di Desa Andamui, sehingga kelas risiko banjir menurun menjadi kategori rendah.