digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Konsolidasi regional menyisakan tim TI lokal yang ramping dan kini harus membuktikan nilai tambahnya melalui pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan dari jarak jauh. Transformasi peran menjadi syarat untuk bertahan. Penelitian ini mengkaji satu tim layanan lapangan TI yang menangani Thailand, Indonesia, dan Filipina. Strategi 2030 menetapkan tiga peran tujuan: analisis bisnis, pembuatan dan pengujian aplikasi solusi, serta konsultasi keamanan siber lokal. Sampai kini belum ada perpindahan ke arah itu. Penelitian ini mendiagnosis hambatannya, mengukur kesenjangan kompetensi, dan merancang kerangka manajemen talenta untuk menggerakkan perpindahan tersebut. Staf diwawancarai berdasarkan lima kondisi kesiapan perubahan individu, sementara pemimpin tim diwawancarai terpisah agar kedua versi dapat dibandingkan. Kesehatan organisasi dan kesiapan perubahan dianalisis secara paralel, dan keduanya harus selaras sebelum intervensi apa pun dirancang. Hipotesis awal bahwa kecemasan atas kelangsungan peran saat ini menahan minat berpindah peran tidak didukung data. Minat itu ada, perubahan diterima sebagai kepastian, dan minat belajar merata di seluruh tim. Yang tidak tersedia adalah kejelasan peran: tujuannya ada namun rincian kerjanya tidak. Staf tidak mampu menjelaskan isi peran, standar kerjanya, maupun jalur untuk mencapainya. Di belakangnya ada beban kerja operasional yang tidak pernah dikurangi untuk memberi ruang pengembangan. Kerangka yang diusulkan bertumpu pada tiga pilar: arsitektur peran dengan jalur karier yang transparan, model kompetensi bertingkat yang mengacu pada peran tujuan, dan kriteria kinerja yang mengikat konsekuensi pada perpindahan peran. Ketiganya berdiri di atas kapasitas pengembangan yang harus disediakan organisasi sendiri, karena tidak ada kerangka yang dapat menggantikannya. Kontribusi penelitian ini mencakup metode diagnostik dua tingkat yang diselaraskan sebelum perancangan dimulai, pemanfaatan ulang survei keterlibatan karyawan yang sudah berjalan sebagai proksi terstruktur beserta transparansi biaya pengukurannya, serta aturan perancangan yang lahir dari perbedaan penjelasan manajer dan staf atas ketidakaktifan yang sama: penilaian pengembangan harus bersandar pada kemajuan yang teramati, bukan pada dugaan sikap.