Sistem fotovoltaik (PV) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) kini muncul sebagai
solusi untuk dekarbonisasi pada sistem kelistrikan. Total kapasitas pengembangan sebesar 17,1
GW dalam RUPTL 2025-2034 menunjukkan peluang besar untuk berinvestasi dalam teknologi
tersebut. Kehadiran portofolio PV dan BESS dalam bauran energi sangat penting untuk
mengatasi permasalahan pada sistem kelistrikan terisolasi yang masih bergantung pada bahan
bakar fosil dan memerlukan teknologi yang dapat dikembangkan dengan cepat guna
meningkatkan kapasitasnya.
Banyak penelitian telah mengembangkan pendekatan finansial untuk mengukur kelayakan
rencana investasi PLTS. Penelitian yang ada di Indonesia umumnya berfokus pada penggunaan
metode Discounted Cash Flow (DCF) dan simulasi Monte Carlo untuk mengevaluasi NPV,
IRR, dan Payback Period sebagai kriteria penilaian dalam proposal investasi. Meskipun metode
DCF dan Monte Carlo bermanfaat bagi pengembang proyek dalam pengambilan keputusan
investasi finansial, metode-metode ini mengasumsikan skenario investasi yang kaku, yang
mungkin tidak mencerminkan pengambilan keputusan di dunia nyata secara akurat. Investor
yang berminat sering kali merasa khawatir akan volatilitas iklim investasi terkait biaya
teknologi, tarif, dan kinerja PLTS yang dapat memengaruhi profitabilitas investasi mereka.
Penelitian ini dirancang untuk memanfaatkan fleksibilitas manajemen dalam meningkatkan
penilaian proyek saat kondisi risiko pasar volatil sekaligus menjembatani kesenjangan dari
penelitian terdahulu di Indonesia yang belum mengadopsi fungsi fleksibilitas manajemen
dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini menerapkan metode penilaian opsi riil dengan
menggunakan model binomial lattice untuk merepresentasikan titik keputusan yang tersedia
bagi manajemen sebelum memutuskan kelanjutan proyek.
Studi ini menganalisis kelayakan finansial dari dua proyek PV + BESS, yang dibedakan
berdasarkan skema pembiayaannya: Pembiayaan Konvensional, di mana pengembang
menyuntikkan 100% ekuitas untuk mendanai proyek tersebut; dan Green Financing, dimana
pengembang menyuntikkan modal dengan rasio utang terhadap ekuitas 70:30, disertai dengan
insentif eksklusif pemerintah seperti penurunan suku bunga bank dan pembebasan bea masuk
dan PPN selama tahap konstruksi proyek.
Studi ini berfokus pada proyek PV yang berlokasi di wilayah Timika untuk mengembangkan
sistem tenaga surya PV 10 MWac dan BESS 5 MWh.
Perpustakaan Digital ITB