digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sistem fotovoltaik (PV) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) kini muncul sebagai solusi untuk dekarbonisasi pada sistem kelistrikan. Total kapasitas pengembangan sebesar 17,1 GW dalam RUPTL 2025-2034 menunjukkan peluang besar untuk berinvestasi dalam teknologi tersebut. Kehadiran portofolio PV dan BESS dalam bauran energi sangat penting untuk mengatasi permasalahan pada sistem kelistrikan terisolasi yang masih bergantung pada bahan bakar fosil dan memerlukan teknologi yang dapat dikembangkan dengan cepat guna meningkatkan kapasitasnya. Banyak penelitian telah mengembangkan pendekatan finansial untuk mengukur kelayakan rencana investasi PLTS. Penelitian yang ada di Indonesia umumnya berfokus pada penggunaan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan simulasi Monte Carlo untuk mengevaluasi NPV, IRR, dan Payback Period sebagai kriteria penilaian dalam proposal investasi. Meskipun metode DCF dan Monte Carlo bermanfaat bagi pengembang proyek dalam pengambilan keputusan investasi finansial, metode-metode ini mengasumsikan skenario investasi yang kaku, yang mungkin tidak mencerminkan pengambilan keputusan di dunia nyata secara akurat. Investor yang berminat sering kali merasa khawatir akan volatilitas iklim investasi terkait biaya teknologi, tarif, dan kinerja PLTS yang dapat memengaruhi profitabilitas investasi mereka. Penelitian ini dirancang untuk memanfaatkan fleksibilitas manajemen dalam meningkatkan penilaian proyek saat kondisi risiko pasar volatil sekaligus menjembatani kesenjangan dari penelitian terdahulu di Indonesia yang belum mengadopsi fungsi fleksibilitas manajemen dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini menerapkan metode penilaian opsi riil dengan menggunakan model binomial lattice untuk merepresentasikan titik keputusan yang tersedia bagi manajemen sebelum memutuskan kelanjutan proyek. Studi ini menganalisis kelayakan finansial dari dua proyek PV + BESS, yang dibedakan berdasarkan skema pembiayaannya: Pembiayaan Konvensional, di mana pengembang menyuntikkan 100% ekuitas untuk mendanai proyek tersebut; dan Green Financing, dimana pengembang menyuntikkan modal dengan rasio utang terhadap ekuitas 70:30, disertai dengan insentif eksklusif pemerintah seperti penurunan suku bunga bank dan pembebasan bea masuk dan PPN selama tahap konstruksi proyek. Studi ini berfokus pada proyek PV yang berlokasi di wilayah Timika untuk mengembangkan sistem tenaga surya PV 10 MWac dan BESS 5 MWh.