Pertumbuhan permintaan listrik dari sektor industri dan rencana integrasi
pembangkit listrik tenaga air skala besar di Sulawesi Tenggara memerlukan
penguatan jaringan transmisi melalui pembangunan interkoneksi 275 kV Sulawesi
Tenggara dengan estimasi investasi sebesar Rp12.053,91 miliar dan umur
ekonomis 40 tahun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan finansial dan
ketahanan proyek terhadap ketidakpastian serta menganalisis apakah pembiayaan
hijau atau konsesional dapat meningkatkan efisiensi modal dan nilai bagi
pemegang ekuitas PLN. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis
pemodelan melalui metode Discounted Cash Flow (DCF), analisis sensitivitas dan
break-even, serta Simulasi Monte Carlo sebanyak 2.000 iterasi, yang dilanjutkan
dengan perbandingan skema pembiayaan 100% ekuitas, pinjaman konvensional,
dan pembiayaan hijau berdasarkan perspektif Free Cash Flow to the Firm (FCFF)
dan Free Cash Flow to Equity (FCFE). Dengan menggunakan WACC korporat
PLN sebesar 6,19% sebagai tingkat diskonto referensi, hasil base case
menunjukkan NPV-FCFF sebesar Rp12.327,93 miliar, IRR-FCFF sebesar 11,65%,
dan discounted payback period selama 13 tahun. Dalam batas asumsi Simulasi
Monte Carlo yang digunakan, proyek menunjukkan probabilitas NPV tidak negatif
sebesar 100% pada tingkat referensi tersebut. Ketika dievaluasi menggunakan cost
of equity yang lebih ketat sekitar 11,25%, probabilitas NPV tidak negatif menjadi
68,40% pada skema 100% ekuitas dan meningkat menjadi 98,55% pada skema
pembiayaan hijau yang diuji. Skenario pembiayaan konsesional dengan struktur
70% utang dan 30% ekuitas pada biaya utang indikatif 3,93% menghasilkan NPV
FCFE sebesar Rp13.894,82 miliar dan IRR ekuitas sebesar 17,43%, sekaligus
menurunkan kebutuhan ekuitas PLN menjadi Rp3.616,17 miliar. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa proyek secara fundamental layak secara finansial, sedangkan
pembiayaan hijau atau konsesional dapat meningkatkan nilai ekuitas, efisiensi
modal, dan ketahanan terhadap risiko penurunan. Struktur 70/30 dalam penelitian
ini diperlakukan sebagai skenario pembiayaan pada tingkat proyek, bukan sebagai
target struktur utang korporat PLN, sehingga komposisi akhir tetap perlu
mempertimbangkan kemampuan pembayaran utang dan risiko pembiayaan
Perpustakaan Digital ITB