Pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, agama
dan budaya. Hal tersebut memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan
seni, sastra dan budaya terutama saat periode Majapahit. Pada periode akhir
Majapahit sekitar abad ke-15 saat kepemimpinan Ratu Suhita, sastra Panji mulai
mencapai puncak kepopulerannya. Selain menjadi pertunjukan tradisional, sastra
Panji menjadi sebuah elemen yang penting dalam penggambaran visual relief
yang ada pada candi-candi Hindu-Buddha di Indonesia terutama pada relief Candi
Sukuh dan Situs Planggatan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis visualisasi dan simbol Panji pada
relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan berkaitan dengan spiritualitas masyarakat
Hindu-Buddha abad ke-15, serta mengkaji korelasi antara visual Panji relief Candi
Sukuh dan Situs Planggatan dengan sastra Panji yang ada. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Ditinjau secara
teknis, penelitian ini menggunakan metode Bahasa Rupa oleh Primadi Tabrani
untuk menguraikan visual dan simbolisasi Panji pada Candi Sukuh dan Situs
Planggatan. Selain itu, ditinjau secara filosofis menggunakan Teori Estetika
Paradoks pola lima oleh Jakob Sumardjo dan agama asli Indonesia oleh Rahmat
Subagya. Teori tersebut digunakan untuk menginterpretasikan bagaimana aspek
visual Panji berkaitan dengan spiritualitas masyarakat Hindu-Buddha. Terdapat
juga, Analisis wacana yang digunakan untuk membedah visual Panji dan
korelasinya dengan sastra Panji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa visual dan simbol tokoh Panji pada relief
Candi Sukuh dan Situs Planggatan merepresentasikan simbol spiritual masyarakat
Hindu-Buddha abad ke-15. Melalui uraian Bahasa Rupa, visual Panji tampil
dengan atribut khas seperti tekes, songsong, kendaraan kuda dan gajah yang
melambangkan perjalanan spiritual menuju penyatuan ilahi (tantra). Relief
tersebut berfungsi sebagai medium religius yang berkaitan dengan kosmologi dan
ritual. Selama masa transisi, hubungan antara cerita Panji dan spiritual Islam tidak
terletak pada masuknya ajaran Islam secara langsung ke dalam narasinya,
melainkan pada perannya sebagai media transisi budaya dan kosmologi. Selain
itu, melalui relief Candi Sukuh dan Situs Planggatan terdapat kesinambungan
antara visual relief dan sastra Panji, khususnya sastra Panji Kuda Semirang, yang
sama-sama menggambarkan perjalanan batin, nilai moral, dan idealitas ksatria
dalam budaya Jawa.
Perpustakaan Digital ITB