Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih menjadi tulang punggung sistem
ketenagalistrikan Indonesia karena ketersediaan pasokan batubara domestik yang
melimpah dan keandalan operasionalnya. Namun demikian, PLTU juga merupakan
kontributor utama emisi CO? nasional. Salah satu opsi transisi energi yang realistis
dan dapat diterapkan tanpa mengganti infrastruktur eksisting adalah co-firing
biomass. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan biaya sistem dan emisi CO? di
PLTU Tenayan, Riau, menggunakan pendekatan Mixed-Integer Linear
Programming (MILP). Tiga skenario dianalisis, yaitu: (1) PLTU berbahan bakar
100% batubara sebagai baseline, (2) co-firing batubara dengan satu jenis biomassa,
dan (3) co-firing batubara dengan campuran beberapa jenis biomassa. Model
optimasi multi objektif dirancang untuk meminimalkan total biaya sistem (meliputi
pembelian bahan bakar, pengangkutan, dan blending) serta emisi CO? dari
transportasi dan pembakaran, dengan kendala ketersediaan pasokan, kebutuhan
bahan bakar PLTU, dan mutu bahan bakar (nilai kalor, moisture, ash, dan sulfur).
Hasil menunjukkan bahwa seluruh skenario co-firing memenuhi batas teknis mutu
bahan bakar, dengan nilai Gross Calorific Value sebesar 4.000–4.169 kcal/kg,
moisture 32,40–35,00%, sulfur 0,275–0,34%, dan ash 4,20–5,00%, bahkan pada
tingkat co-firing hingga 25,80%. Pada titik ekstrem biaya, skenario 100% batubara
menghasilkan biaya terendah sebesar USD 28.396.147 per tahun, namun dengan
emisi tertinggi sebesar 1.076.360 tCO? per tahun. Sebaliknya, skenario co-firing
sawdust dan skenario co-firing campuran biomassa mampu menurunkan emisi CO2
hingga 5,50%, dimana untuk skenario co-firing campuran biomassa menghasilkan
emisi terendah sebesar 977.830 tCO? per tahun dengan konsekuensi peningkatan
biaya. Hasil ini menunjukkan adanya trade-off antara biaya dan emisi, serta
menunjukkan bahwa co-firing biomass merupakan strategi yang layak dan efektif
untuk menurunkan emisi sektor ketenagalistrikan.
Perpustakaan Digital ITB