Distribusi material pasang baru pada sektor ketenagalistrikan memerlukan sistem logistik
yang efisien dan terstruktur untuk mendukung keandalan layanan kepada pelanggan. Di PT
PLN (Persero) UID Lampung, distribusi material diselenggarakan melalui sistem dua
eselon, yaitu aliran material dari pemasok ke gudang Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan
(UP3) dan selanjutnya ke Unit Layanan Pelanggan (ULP). Dalam praktik operasional,
masih dijumpai ketidakseimbangan aliran material, yang ditunjukkan oleh rendahnya
tingkat persediaan pada beberapa ULP meskipun stok di tingkat UP3 relatif tinggi. Kondisi
ini mengindikasikan bahwa pengaturan frekuensi pengiriman dan alokasi distribusi belum
direncanakan secara terintegrasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model distribusi material dua eselon yang
mengintegrasikan biaya transportasi dan biaya penyimpanan, dengan frekuensi pengiriman
dan alokasi distribusi sebagai variabel keputusan utama. Permasalahan ini diformulasikan
menjadi model biner integer kudratik (Biner Integer Quadratik Programming/BIQP) dan
disesuaikan dengan karakteristik operasional distribusi material pasang baru di PT PLN
(Persero) UID Lampung. Model dirancang untuk meminimalkan total biaya logistik tanpa
mengubah struktur jaringan distribusi yang bersifat tetap.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa penerapan model optimasi mampu menurunkan total
biaya logistik dibandingkan dengan kondisi baseline. Implementasi model menghasilkan
penghematan biaya sebesar Rp 15.423.833 atau setara dengan efisiensi 4,03% dari total
biaya distribusi. Hasil uji sensitifitas stabil terhadap perubahan biaya simpan dan biaya
transportasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaturan frekuensi pengiriman dan alokasi
distribusi secara terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi distribusi material pada sistem
dua eselon serta mendukung pengambilan keputusan logistik yang lebih sistematis di
lingkungan PLN.
Perpustakaan Digital ITB