digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Tomi Nugroho
PUBLIC Open In Flipbook Resti Andriani

Kebutuhan Indonesia untuk menurunkan ketergantungan LPG impor sambil Kebutuhan Indonesia untuk menurunkan ketergantungan terhadap LPG impor sambil menjaga keterjangkauan energi mendorong pengembangan hilirisasi batubara menjadi dimetil eter (DME). Namun, penilaian kelayakan sering kali terfragmentasi karena aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan dibahas secara terpisah, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan secara terintegrasi. Penelitian ini menyajikan studi pendahuluan yang menggabungkan evaluasi proses pirolisis–gasifikasi, keekonomian berbasis perusahaan, dan emisi gas rumah kaca dalam satu kerangka analisis terpadu. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis pengaruh penambahan Fe?O? terhadap proses pirolisis dan gasifikasi batubara dalam menghasilkan syngas untuk produksi DME pada lignit dan sub-bituminous; (2) membandingkan keekonomian relatif dari keempat skenario; dan (3) menilai intensitas emisi gas rumah kaca secara komprehensif. Metode yang digunakan meliputi eksperimen pirolisis pada rentang suhu 400–900 °C, pemodelan gasifikasi uap pada 900 °C dengan pendekatan minimisasi energi Gibbs, serta estimasi sintesis DME melalui rute metanol dua tahap. Inventaris emisi disusun secara berbasis proses, mencakup CO? langsung, oksidasi CO, pembakaran CH?, dan konversi slip CH? menjadi CO?e. Analisis keekonomian menggunakan metode benefit-to-cost ratio (BCR) relative. Hasil menunjukkan bahwa penambahan Fe?O? secara konsisten meningkatkan kandungan H? dan CO dalam gas hasil pirolisis, serta memperbesar potensi pembentukan DME melalui gasifikasi. Yield DME meningkat dari 0,35 menjadi 0,39 kg/kg batubara untuk lignit, dan dari 0,33 menjadi 0,40 kg/kg batubara untuk sub-bituminous. Penambahan Fe?O? juga memperbaiki keekonomian relatif, dengan BCR meningkat dari 1,91 menjadi 2,10 untuk lignit, dan dari 1,60 menjadi 1,91 untuk sub-bituminous. Dari sisi lingkungan, nilai emisi menurun pada lignit dari 3,47 kg CO2eq/ kg DME menjadi 3,11 kg CO2eq/ kg DME setelah penambahan Fe?O?, dan pada sub-bituminus dari 4,22 kg CO2eq/ kg DME menjadi 3,58 kg CO2eq/ kg DME. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi proses dengan penambahan Fe?O? mampu meningkatkan performa teknis, ekonomi, dan lingkungan secara simultan dalam konversi batubara menjadi DME.