Saat ini terjadi pergeseran paradigma dalam lanskap energi dunia; dengan demikian, perusahaan minyak dan gas yang ada tidak punya pilihan selain mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam model bisnis mereka. Sebagai salah satu pemain penting dalam industri energi milik negara Indonesia, bisnis penyulingan Pertamina menghadapi "Tantangan Ganda" untuk memastikan keamanan energinya sekaligus mencapai NZE 2060. Awalnya, Pertamina memilih untuk mengadopsi model "Enam Pilar Strategis ESG". Namun, muncul kesenjangan kritis antara kepatuhan organisasi dan ketahanan pasar, yang termanifestasi dalam peringkat ESG yang buruk di tingkat internasional, yang menyiratkan bahwa perusahaan tidak mengelola risiko eksternalnya secara efektif dan bahwa mungkin ada ketidaksesuaian dalam alokasi modal.
Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada penilaian seberapa efisien proses pengambilan keputusan yang ada di tengah paradoks yang dijelaskan dalam masa restrukturisasi perusahaan yang ekstensif, yaitu, penggabungan PT Pertamina Patra Niaga (PT PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PT PIS) ke dalam organisasi Subholding Downstream yang baru. Untuk tujuan ini, penelitian ini akan menggunakan metodologi analisis kasus tunggal metode campuran. Dengan kata lain, penelitian ini akan menerapkan alat Benchmarking Kinerja dan Analisis Kerangka kerja dari data kualitatif yang dikumpulkan melalui tiga wawancara semi-terstruktur dengan perwakilan Dewan Direksi. Dengan menerapkan Pemecahan Masalah Kepner-Tregoe dan perhitungan Proses Hierarki Analitik Biner (AHP), penelitian ini membuktikan inefisiensi sistem yang ada dan menyerukan pendekatan "Pengambilan Keputusan yang Disesuaikan". Solusi ini menyiratkan peta jalan dan tonggak penting untuk mencapai keselarasan terkait isu-isu materialitas Laporan Keberlanjutan terbaru dan penggabungan Enam Pilar Strategis ESG di perusahaan PT PPN, PT KPI, dan PT PIS sebelumnya.
Perpustakaan Digital ITB