digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan pesat konvensi budaya populer telah meningkatkan tingkat persaingan serta ekspektasi terhadap sistem pendaftaran exhibitor yang transparan dan efisien. Comic Frontier, sebagai salah satu acara pop culture terbesar di Indonesia, menghadapi ketidakpuasan exhibitor yang berulang terkait proses pendaftaran booth dan kurasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kesenjangan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, (2) menentukan akar penyebab keluhan exhibitor, (3) mengkaji praktik terbaik dari acara sejenis berskala besar, dan (4) merumuskan perbaikan strategis untuk menciptakan sistem pendaftaran yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuesioner dianalisis melalui gap analysis, Analysis of Variance (ANOVA), serta uji kecukupan faktor untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi exhibitor berdasarkan tingkat pengalaman. Wawasan kualitatif diperoleh melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD), yang kemudian disusun secara sistematis menggunakan metode Kepner-Tregoe (KT) dan diprioritaskan melalui analisis Pareto. Selanjutnya, matriks bobot dikembangkan untuk mengevaluasi tingkat kepentingan dan dampak relatif dari akar masalah yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, khususnya pada aspek kejelasan proses, transparansi komunikasi, dan mekanisme umpan balik. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan tingkat kepuasan yang signifikan secara statistik antar kelompok exhibitor berdasarkan pengalaman, yang mengindikasikan bahwa sistem yang ada saat ini cenderung kurang mengakomodasi exhibitor pemula. Analisis KT dan Pareto mengidentifikasi keterbatasan struktural—yakni ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pendaftar dan kapasitas organisasi—sebagai akar penyebab utama ketidakpuasan. Benchmarking terhadap acara sejenis menegaskan pentingnya struktur timeline yang jelas dan kriteria kurasi yang transparan dalam membangun kepercayaan dan persepsi keadilan exhibitor. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan dua solusi strategis: pengembangan kerangka pendaftaran yang terstruktur dan transparan sebagai prioritas jangka pendek, serta implementasi platform pendaftaran digital terintegrasi sebagai inisiatif transformasi jangka panjang. Solusi ini diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian, meningkatkan kualitas komunikasi, dan memperkuat tata kelola proses pendaftaran. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen acara dengan menunjukkan bahwa analisis masalah berbasis data dan desain sistem yang berorientasi pada pemangku kepentingan dapat meningkatkan pengalaman exhibitor serta keberlanjutan organisasi dalam penyelenggaraan acara budaya berskala besar.