Komitmen Indonesia untuk mencapai target energi terbarukan dan dekarbonisasi nasional menuntut adanya instrumen kebijakan yang mampu mendorong investasi swasta sekaligus menjaga stabilitas pasar. Meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, realisasi pengembangannya masih tertinggal akibat tingginya biaya investasi awal, periode pengembalian yang panjang, serta keterbatasan fiskal pemerintah dalam menyediakan subsidi langsung secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) diperkenalkan sebagai instrumen berbasis pasar yang bertujuan menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi pengembang energi terbarukan serta mendukung permintaan sukarela dari konsumen listrik, khususnya sektor korporasi. Namun demikian, sebagai pasar yang masih berada pada tahap awal pengembangan, pasar REC di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga, lemahnya sinyal investasi, serta terbatasnya efektivitas intervensi kebijakan yang diterapkan secara parsial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana berbagai skenario kebijakan REC memengaruhi stabilitas pasar serta pengembangan kapasitas energi terbarukan di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan system dynamics yang memungkinkan analisis interaksi dinamis dan bergantung waktu antara permintaan REC, penawaran REC, perilaku harga, alokasi keuntungan, serta keputusan investasi energi terbarukan. Berbeda dengan pendekatan statis atau equilibrium, system dynamics mampu merepresentasikan mekanisme umpan balik (feedback loops), keterlambatan konstruksi, dan perilaku adaptif pasar yang menjadi karakteristik utama pasar sertifikat energi terbarukan pada tahap awal.
Model system dynamics yang dikembangkan merepresentasikan sistem perdagangan REC di Indonesia dalam horizon waktu 2025–2035. Model ini disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari PT PLN (Persero), Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta berbagai literatur akademik dan laporan kebijakan, serta dilengkapi dengan wawancara pemangku kepentingan untuk keperluan validasi model. Sebanyak tiga belas skenario kebijakan dianalisis, yang terdiri atas satu skenario dasar (Business-as-Usual), lima skenario intervensi kebijakan tunggal, dan tujuh skenario kebijakan multi-faktor. Instrumen kebijakan yang diuji meliputi peningkatan kemauan beli konsumen, perilaku pembelian ulang REC, alokasi reinvestasi keuntungan REC ke proyek energi terbarukan, serta dukungan subsidi pemerintah.
Kinerja masing-masing skenario dievaluasi menggunakan lima indikator utama, yaitu tingkat harga REC, volatilitas harga REC, volume perdagangan REC kumulatif, keuntungan REC kumulatif, serta total kapasitas terpasang energi terbarukan hingga tahun 2035. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario intervensi kebijakan tunggal hanya menghasilkan perbaikan marginal dan tidak mampu mengatasi permasalahan mendasar terkait ketidakstabilan pasar. Sebaliknya, skenario kebijakan multi-faktor menunjukkan kinerja yang jauh lebih kuat melalui aktivasi mekanisme umpan balik penguatan antara kinerja pasar dan investasi energi terbarukan.
Di antara seluruh skenario yang diuji, skenario High Intervention Strategy menunjukkan hasil paling optimal. Pada skenario ini, harga REC mencapai Rp95.639, keuntungan REC terakumulasi melampaui Rp6,22 triliun, volume perdagangan kumulatif melebihi 103 juta sertifikat, dan kapasitas terpasang energi terbarukan meningkat hingga 55,81 GW pada tahun 2035. Temuan ini menegaskan pentingnya desain kebijakan yang terintegrasi, di mana insentif sisi permintaan, dukungan fiskal, dan mekanisme reinvestasi diterapkan secara simultan, bukan secara terpisah. Secara khusus, reinvestasi keuntungan dari perdagangan REC terbukti menjadi mekanisme kunci dalam menerjemahkan aktivitas pasar menjadi pertumbuhan kapasitas energi terbarukan yang berkelanjutan, meskipun terdapat keterlambatan akibat proses konstruksi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pasar REC di Indonesia tidak ditentukan oleh satu instrumen kebijakan secara individual, melainkan oleh keselarasan dan interaksi berbagai instrumen kebijakan. Pasar REC yang dirancang dengan baik dan didukung oleh intervensi kebijakan yang terkoordinasi serta mekanisme stabilisasi harga yang memadai berpotensi berfungsi sebagai instrumen pelengkap kebijakan energi nasional, termasuk RUKN dan RUPTL. Dengan menyediakan sinyal investasi yang kredibel dan meningkatkan tingkat kematangan pasar, REC dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pencapaian transisi energi terbarukan jangka panjang di Indonesia.
Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menghadirkan salah satu kajian awal berbasis system dynamics yang secara komprehensif mengevaluasi skenario kebijakan pasar REC di Indonesia. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam merancang kebijakan REC yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan secara finansial di pasar energi terbarukan yang sedang berkembang.
Perpustakaan Digital ITB