Kata Bandung menghadapi permasalahan kemacetan yang kritis akibat populasi kendaraan bermotor yang
mencapai 1,54 juta unit serta estimasi kehilangan waktu masyarakat sebesar 104 jam per tahun.
Sebagai respons, Pemerintah merencanakan implementasi Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya dengan
jalur khusus (separated way) sepanjang 21,7 km yang melewati 27 mas jalan on-corridor di pusat Kata
Bandung. Infrastmktur tersebut berpotensi meningkatkan kinerja operasional bus, tetapi
sekaligus mengurangi kapasitas lajur bagi kendaraan non-BRT. Penelitian ini bertujuan menganalisis
perbandingan kinerja operasional bus pada tiga skenario, mengidentifikasi strategi mitigasi dampak
separated way pada mas kritis, serta mengkuantifikasi perbaikan kinerja jaringan berdasarkan modal
shift aktual. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Skenario 2 menumnkan in-vehicle time (IVT) sebesar
1,4%, riding time (RT) sebesar 1,8%, danjourney time (JT) sebesar 0,6% dibandingkan kondisi
eksisting. Skenario 3 memberikan perbaikan lebih besar bempa penumnan IVT sebesar 13,9% dan RT
sebesar 14,1%, meskipun JT meningkat 1,7% akibat penambahan jarak akses. Derajat kejenuhan (DJ)
rata-rata jaringan meningkat marginal dari 0,456 pada kondisi eksisting menjadi 0,460 pada Skenario
2 dan 0,459 pada Skenario 3. Sebanyak empat dari 15 mas on-corridor tetap berada di bawah LOS C.
Kebutuhan modal shift minimum pada mas-mas tersebut berkisar antara 9,2% hingga 56,9%, sedangkan
model fungsi utilitas menghasilkan modal shift aktual sekitar 12,36% untuk pengguna mobil dan 20,8%
untuk pengguna sepeda motor.
Perpustakaan Digital ITB