digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jalan tol diharuskan untuk selalu dalam kondisi baik, sehingga diperlukan evaluasi kondisi perkerasan yang tepat sebagai dasar pemeliharaan dan penganggaran kerusakannya. Survei langsung di jalan tol memiliki keterbatasan seperti, keselamatan, waktu, dan biaya, sehingga rekaman dashcam menjadi alternatif sumber data awal. Namun data berupa dimensi kerusakan dari citra dashcam harus diperoleh melalui interpretasi visual, sehingga mengandung ketidakpastian pengukuran. Penelitian ini mengkuantifikasi ketidakpastian pembacaan dimensi kerusakan dari citra dashcam menggunakan kerangka JCGM 100:2008, lalu menganalisis dampaknya terhadap nilai Pavement Condition Index, jenis penanganan, dan Rencana Anggaran Biaya. Ruas jalan tol di Jakarta sepanjang STA 26+400 sampai STA 0+000 dibagi menjadi 528 unit sampel sepanjang 50 m. Dimensi kerusakan diukur dengan pendekatan skala lokal bertingkat, lalu disusun tiga skenario dimensi, yaitu minimum, dasar, dan maksimum. Hasilnya, PCI dasar rata-rata ruas adalah 95,34 (kategori Good), tetapi turun menjadi 64,33 (kategori Fair) apabila hanya ditinjau pada 69 unit yang memiliki kerusakan teramati. Sebanyak 15 unit memiliki keakuratan rendah dengan rentang PCI di atas 10 poin, dan 35 dari 69 unit berkerusakan tidak stabil secara klasifikasi kondisi. Pada tingkat segmen penanganan, 5 dari 18 segmen berpotensi berpindah jenis penanganan antarskenario, sehingga total Rencana Anggaran Biaya berkisar antara Rp21.783.561.700 dan Rp25.310.127.687, dengan nilai skenario dasar Rp23.168.584.945. Ketidakpastian penentuan tingkat keparahan tidak dikuantifikasi dalam penelitian ini dan dicatat sebagai keterbatasan penelitian. Nilai PCI berbasis dashcam karenanya disarankan dibaca sebagai rentang untuk keperluan skrining awal, bukan sebagai angka tunggal pengganti survei lapangan.