digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Turnover karyawan merupakan tantangan penting dalam pengelolaan sumber daya manusia, terutama di divisi fungsional krusial seperti Human Resources and General Affairs (HRGA). PT Tembok Biru, perusahaan manufaktur di Indonesia, mengalami 13 pengunduran diri di Divisi HRGA antara tahun 2020 hingga awal 2025, dari total hanya 26–30 karyawan. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan operasional, peningkatan beban kerja, serta penurunan efisiensi organisasi. Meski perusahaan memiliki data exit interview, belum ada analisis sistematis maupun strategi retensi formal yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan mengembangkan kerangka pengambilan keputusan menggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, memanfaatkan data sekunder dari exit interview dan data primer dari wawancara serta diskusi kelompok terarah (FGD) dengan Direktur Pabrik dan tiga staf HRD. Melalui Analisis Tematik, lima faktor utama penyebab turnover diidentifikasi: keterbatasan pengembangan karier, tawaran pekerjaan dari luar (terutama ASN), gaji yang tidak kompetitif, konflik antargenerasi, dan kurangnya apresiasi terhadap kinerja karyawan. Problem Tree Analysis digunakan untuk memetakan akar masalah dan dampaknya terhadap organisasi, seperti tingginya biaya rekrutmen, turunnya moral, dan beban kerja berlebih. Berdasarkan temuan tersebut, tiga strategi alternatif retensi karyawan diusulkan: (1) Mentoring untuk Navigasi Karier, (2) Pengakuan dan Insentif Ringan Berbasis Kinerja, dan (3) Budaya Kerja yang Mengutamakan Kesejahteraan dan Empati. Ketiga alternatif ini dievaluasi menggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP) berdasarkan tiga kriteria utama pengambilan keputusan: Pengembangan dan Pertumbuhan Karier, Kompensasi dan Tunjangan, serta Kesejahteraan dan Budaya Kerja. Hasil AHP menunjukkan bahwa strategi Pengakuan dan Insentif Ringan Berbasis Kinerja memiliki prioritas tertinggi (Normal: 0.465981), yang mencerminkan pentingnya sistem pengakuan formal dan insentif berbasis keterampilan dalam memperkuat retensi karyawan di PT Tembok Biru. Temuan ini menunjukkan bahwa karyawan lebih cenderung bertahan ketika kontribusi mereka diakui dan dihargai melalui sistem yang terstruktur namun praktis. Mengingat keterbatasan sumber daya dan konteks operasional perusahaan, strategi ini muncul sebagai opsi yang paling efektif dan layak diterapkan. Strategi ini mampu memenuhi kebutuhan intrinsik maupun ekstrinsik karyawan tanpa perlu melakukan perubahan besar terhadap struktur gaji. Penelitian ini memberikan PT Tembok Biru kerangka kerja berbasis bukti yang terfokus untuk meningkatkan stabilitas tenaga kerja, serta berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana pengakuan dan insentif berbasis keterampilan dapat mengatasi turnover disfungsional pada divisi organisasi kecil namun krusial.