Turnover karyawan merupakan tantangan penting dalam pengelolaan
sumber daya manusia, terutama di divisi fungsional krusial seperti Human
Resources and General Affairs (HRGA). PT Tembok Biru, perusahaan manufaktur
di Indonesia, mengalami 13 pengunduran diri di Divisi HRGA antara tahun 2020
hingga awal 2025, dari total hanya 26–30 karyawan. Kondisi ini menyebabkan
ketidakstabilan operasional, peningkatan beban kerja, serta penurunan efisiensi
organisasi. Meski perusahaan memiliki data exit interview, belum ada analisis
sistematis maupun strategi retensi formal yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan
mengisi celah tersebut dengan mengembangkan kerangka pengambilan keputusan
menggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, memanfaatkan data sekunder
dari exit interview dan data primer dari wawancara serta diskusi kelompok terarah
(FGD) dengan Direktur Pabrik dan tiga staf HRD. Melalui Analisis Tematik, lima
faktor utama penyebab turnover diidentifikasi: keterbatasan pengembangan karier,
tawaran pekerjaan dari luar (terutama ASN), gaji yang tidak kompetitif, konflik
antargenerasi, dan kurangnya apresiasi terhadap kinerja karyawan. Problem Tree
Analysis digunakan untuk memetakan akar masalah dan dampaknya terhadap
organisasi, seperti tingginya biaya rekrutmen, turunnya moral, dan beban kerja
berlebih.
Berdasarkan temuan tersebut, tiga strategi alternatif retensi karyawan
diusulkan: (1) Mentoring untuk Navigasi Karier, (2) Pengakuan dan Insentif
Ringan Berbasis Kinerja, dan (3) Budaya Kerja yang Mengutamakan
Kesejahteraan dan Empati. Ketiga alternatif ini dievaluasi menggunakan
pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP) berdasarkan tiga kriteria utama
pengambilan keputusan: Pengembangan dan Pertumbuhan Karier, Kompensasi
dan Tunjangan, serta Kesejahteraan dan Budaya Kerja. Hasil AHP menunjukkan
bahwa strategi Pengakuan dan Insentif Ringan Berbasis Kinerja memiliki prioritas
tertinggi (Normal: 0.465981), yang mencerminkan pentingnya sistem pengakuan
formal dan insentif berbasis keterampilan dalam memperkuat retensi karyawan di
PT Tembok Biru. Temuan ini menunjukkan bahwa karyawan lebih cenderung bertahan ketika
kontribusi mereka diakui dan dihargai melalui sistem yang terstruktur namun
praktis. Mengingat keterbatasan sumber daya dan konteks operasional
perusahaan, strategi ini muncul sebagai opsi yang paling efektif dan layak
diterapkan. Strategi ini mampu memenuhi kebutuhan intrinsik maupun ekstrinsik
karyawan tanpa perlu melakukan perubahan besar terhadap struktur gaji.
Penelitian ini memberikan PT Tembok Biru kerangka kerja berbasis bukti yang
terfokus untuk meningkatkan stabilitas tenaga kerja, serta berkontribusi pada
pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana pengakuan dan insentif berbasis
keterampilan dapat mengatasi turnover disfungsional pada divisi organisasi kecil
namun krusial.
Perpustakaan Digital ITB