digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Arjuna Dolitua
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PT. BERSAMA Finance, salah satu lembaga keuangan non-bank terkemuka di Indonesia yang telah beroperasi sejak tahun 1990, telah mengalami pertumbuhan pesat di era pasca¬pandemi berkat kemajuan teknologi finansial. Merespons dinamika tersebut, PT. BERSAMA Finance meluncurkan BERSAMAfin, sebuah platform digital yang dirancang untuk memperkuat kualitas layanan dan memperluas jangkauan pasar. Di antara berbagai produk pinjaman yang tersedia, pinjaman multiguna (multipurpose loan) menonjol dalam lanskap yang semakin didominasi fintech. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saldo outstanding pinjaman multiguna mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 33,73 persen year-on-year, mencapai Rp 74,48 triliun per September 2024. Perubahan perilaku konsumen yang beralih ke belanja online dan transaksi digital telah menimbulkan ekspektasi baru terhadap kemudahan dan kecepatan proses. Konsumen kini menuntut pengalaman end-to-end yang mulus tanpa hambatan, mulai dari pengajuan hingga pencairan dana. Tren ini menjadi tantangan serius bagi PT. BERSAMA Finance karena model operasional konvensional yang selama ini digunakan dianggap kurang responsif terhadap kebutuhan pasar digital. Dengan demikian, transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk mempertahankan daya saing perusahaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab rendahnya adopsi digital pada produk pinjaman multiguna di PT. BERSAMA Finance serta merumuskan strategi bisnis yang tepat. Metode yang digunakan mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, di mana data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan manajemen internal yang menangani portofolio pinjaman multiguna digital, serta survei mengenai persepsi pasar yang mencakup calon nasabah dan nasabah aktif. Data sekunder dikumpulkan dari laporan tahunan perusahaan, publikasi industri, dan literatur akademik tentang inovasi digital di sektor keuangan. Kerangka konseptual penelitian dimulai dengan analisis pasar untuk memahami preferensi, opini, dan segmentasi konsumen terhadap produk pinjaman multiguna digital. Selanjutnya, analisis eksternal dilakukan menggunakan model Porter’s Five Forces dan penilaian kondisi Industri dan Organisasi pasar, sedangkan analisis internal memanfaatkan pendekatan Resource-Based View (RBV) dan Value Chain Analysis. Temuan dari keseluruhan analisis tersebut disintesis ke dalam matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), yang kemudian menjadi dasar pengembangan strategi pada tingkat unit bisnis (business-level) dan tingkat korporasi (corporate-level). Strategi fungsional diformulasikan melalui analisis TOWS yang mengintegrasikan faktor internal dan eksternal untuk merumuskan langkah konkret. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, beberapa penyebab rendahnya pertumbuhan pinjaman multiguna digital di PT BERSAMA Finance berasal dari kuatnya budaya konvensional perusahaan, yang mengakibatkan lambatnya pergeseran perilaku menuju digitalisasi. Investasi teknologi yang rendah, digitalisasi yang belum optimal, pinjaman multiguna bukan prioritas utama, tingginya persaingan antar-kompetitor, ancaman produk substitusi dengan proses aplikasi lebih cepat, serta minimnya program promosi diidentifikasi sebagai faktor kunci yang menghambat transformasi digital. Penyesuaian struktur organisasi menuju strategi diferensiasi perlu dilakukan di PT BERSAMA Finance untuk mendukung pengembangan produk digital baru. Selain itu, kapabilitas sumber daya manusia di setiap divisi juga harus memenuhi target yang ditetapkan untuk produk pinjaman multiguna. Sebagai kesimpulan, strategi bisnis yang harus diimplementasikan meliputi “Meningkatkan kesadaran akan transformasi digital di dalam perusahaan,” “Berinvestasi dalam implementasi teknologi yang lebih maju,” “Memasuki model bisnis baru tanpa jaminan,” “Menyempurnakan proses aplikasi di setiap platform,” “Menyesuaikan struktur organisasi berdasarkan strategi diferensiasi,” dan “Mengoptimalkan strategi pemasaran dan promosi.”