Konsolidasi operator seluler di Indonesia serta dorongan menuju teknologi 5G/6G telah memengaruhi tingkat persaingan dan meningkatkan tekanan harga pada para penyedia menara telekomunikasi. Bagi Tower Bersama Group (TBG) sebagai salah satu pemain penyedia menara terbesar di Indonesia, kondisi ini memberikan tekanan terhadap harga sewa, potensi pembongkaran site, serta meningkatnya kebutuhan investasi untuk infrastruktur 5G dan 6G di masa mendatang. Tantangan utama yang muncul adalah menjaga tingkat tenancy, efisiensi biaya, dan stabilitas finansial jangka panjang.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi bisnis yang dapat membantu TBG tetap kompetitif dalam era 5G/6G dan konsolidasi besar di industri operator seluler. Studi ini mengevaluasi pilihan strategi bagi TBG dengan menggunakan pendekatan mixed method yang mengintegrasikan wawancara manajemen, content analysis, financial modelling, dan simulasi Monte Carlo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsolidasi operator seluler meningkatkan kekuatan tawar pembeli, namun juga membuka peluang bentuk kolaborasi baru, khususnya melalui infrastruktur neutral host.
Dua strategi muncul sebagai opsi yang layak bagi TBG, yaitu melakukan konsolidasi selektif antar penyedia menara untuk mencapai skala dan optimalisasi aset serta mengembangkan Neutral Host Infrastructure. Analisis finansial menunjukkan bahwa model neutral host layak dijalankan dalam skenario dasar, dengan menghasilkan nilai kini bersih (NPV) positif dan tingkat pengembalian internal (IRR) yang berada di atas weighted average cost of capital (WACC) TBG. Penelitian ini menyimpulkan bahwa menggabungkan merger dan konsolidasi yang terarah dengan penyedia menara lain serta implementasi layanan neutral host infrastructure akan membantu TBG tetap kompetitif dan mendukung prioritas pembangunan infrastruktur digital nasional dalam lingkungan industri yang terus berubah ini.
Perpustakaan Digital ITB