digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sebagai pengelola area paling produktif di ladang minyak dan gas Sumatera Selatan, PT. PHR PBM Field perlu memperhatikan keandalan operasional dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, manajemen persediaan yang efisien merupakan komponen penting dalam mempertahankan kinerja operasional dan manjaga efektivitas biaya. Namun, tren data perusahaan menunjukkan tantangan berkaitan dengan stok mati dan persediaan yang bergerak lambat. Persentase stok mati dan persediaan yang bergerak lambat menjadi perhatian manajemen karena SKK Migas memiliki ketentuan khusus terkait masalah ini dengan menetapkan persentase ambang batas untuk stok mati dan persediaan yang bergerak lambat untuk setiap kontraktor minyak dan gas di Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, Value-Focused Thinking (VFT) dan Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai pendekatan pengambilan keputusan multi-kriteria. Selain itu, beberapa pendekatan metodologis lain digunakan untuk mendapatkan analisis yang komprehensif berdasarkan pemahaman yang menyeluruh terhadap pihak berkepentingan dan gagasan yang perlu dipertimbangkan. Analisis pemangku kepentingan digunakan untuk menentukan para Subject-Matter Experts (SME) yang relevan dengan pengambilan keputusan. Selanjutnya, diagram Ishikawa digunakan untuk mengidentifikasi area perbaikan. Penyusunan kriteria dan daftar strategi alternatif dari hasil diskusi dengan enam pakar yang berasal dari personil manajemen dan departemen rantai pasok dilakukan dengan bantuan kerangka kerja VFT. Kemudian, AHP dilakukan untuk menentukan metode alternatif terbaik yang akan diimplementasikan. Dengan analisis yang komprehensif, enam alternatif strategi telah dirumuskan: (1) kontrak konsinyasi, (2) kontrak call of order, (3) transfer inkind, (4) menjual kepada perusahaan lain, (5) penghapusan inventaris terjadwal, dan (6) pembelian kembali stok oleh vendor. Untuk menentukan alternatif terbaik, kriteria yang relevan dimasukkan ke dalam analisis termasuk: waktu pelaksanaan, biaya, kesesuaian penerapan, birokrasi, dan infrastruktur pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kontrak call of order dan metode penggunaan inventori bersama (transfer in-kind) merupakan metode alternatif terbaik untuk diimplementasikan.