2023_TS_PP_Annissa Meilani S_29120484_Full Text.pdf
PUBLIC Open In Flipbook Kartika Ringkasan
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan perusahaan peternakan terbesar kedua di Indonesia yang juga terdampak pandemi COVID-19, dibuktikan dengan menurunnya laba sepanjang tahun 2020. Pada tahun 2016-2021, perusahaan menunjukkan laba bersih yang berfluktuasi, tetapi hal ini tidak sejalan dengan peningkatan penjualan yang mengalami tren peningkatan. Ditinjau dari sisi likuiditas, rasio lancar juga berfluktuasi. Hal ini sejalan dengan fluktuasi yang terjadi pada Siklus Konversi Kas (CCC) perusahaan sebagai komponen pengelolaan modal kerja. Dibandingkan dengan pemimpin pasar, JPFA memiliki CCC yang lebih lama pada tahun 2016-2018 dan lebih pendek pada 2019-2021. Dibandingkan dengan rata-rata industri, CCC terus bertambah panjang setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk mengubah penjualan menjadi laba bersih masih belum efisien, sehingga perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kinerja keuangan dan manajemen modal kerja perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah perusahaan dapat memperkuat kinerja keuangannya dan mengelola modal kerja dengan lebih efisien untuk meningkatkan profitabilitas.
Tahapan penelitian ini dimulai dengan analisis kondisi eksternal (PESTEL, Porter’s Five Forces, Analisis Kinerja Industri, dan Benchmarking) serta analisis internal perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis SWOT berdasarkan informasi yang diperoleh dari analisis eksternal dan internal. Kinerja keuangan JPFA (rasio likuiditas, rasio hutang, dan rasio profitabilitas) masih tertinggal dibandingkan pemimpin pasar dan rasio aktivitasnya di bawah rata-rata industri. Analisis rasio keuangan dilakukan untuk memprediksikan kinerja keuangan perusahaan pada enam tahun ke depan. Untuk meningkatkan penjualan bersih, perusahaan harus melakukan promosi below the line dan mengoptimalkan jalur distribusi offline dan online agar produk mudah dijangkau oleh konsumen. Selanjutnya untuk mengurangi CCC, analisis pengelolaan modal kerja, yang terdiri dari persediaan, piutang usaha, dan hutang usaha perlu dilakukan. Pengelolaan persediaan dilakukan dengan menerapkan metode EOQ dan FIFO serta mengoptimalisasi penggunaan cloud service perusahaan. Piutang usaha dapat diturunkan dengan menentukan jangka waktu kredit yang lebih pendek dari rata-rata periode pembayaran, memberikan diskon, menerapkan biaya anjak piutang, dan memiliki kebijakan kredit yang jelas. Hutang usaha dapat dikurangi dengan melakukan negosiasi dengan pemasok dan petani untuk memperpanjang jangka waktu pembayaran dengan mempertimbangkan hubungan yang telah terjalin dengan perusahaan dalam waktu yang lama.
Perpustakaan Digital ITB