digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan ekonomi suatu negara saat ini tidak lepas dari kondisi perekonomian global. Hubungan ekonomi antar negara merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan kedua negara yang terlibat. Oleh karena itu, kegiatan ekspor suatu industri sangat penting bagi perkembangan perekonomian suatu negara. Berdasarkan data yang diperoleh melalui Kementerian Perdagangan RI, distribusi ekspor berupa alas kaki sebesar 86%, barang jadi dari kulit sebesar 13%, dan kulit sebesar 1%. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa kontribusi industri penyamakan kulit yang termasuk dalam barang jadi kulit sangat kecil dalam total distribusi ekspor kulit. Sedangkan dengan melakukan kegiatan ekspor, industri kulit diuntungkan karena akan membuka akses kepada pelanggan baru yang berpotensi meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan jangka panjang. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui 52 pemilik pabrik di industri ini. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis faktor eksplorasi untuk melihat berapa faktor yang menjadi penghambat ekspor di industri penyamakan kulit Garut. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat tiga faktor yang menjadi penghambat ekspor di industri penyamakan kulit Garut, yaitu hambatan fungsional, hambatan internasional dan hambatan pemerintah. Sedangkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa industri penyamakan kulit Garut mempersepsikan biaya modal yang tinggi untuk membiayai ekspor, kesulitan dalam mengatur kegiatan promosi di luar negeri, dan kurangnya sumber daya keuangan untuk melakukan riset pasar di pasar luar negeri sebagai hambatan untuk melakukan kegiatan ekspor. Temuan menunjukkan bahwa perlu adanya kerjasama dengan pihak terkait seperti pemerintah dan lembaga keuangan untuk mendukung kegiatan ekspor di industri penyamakan kulit Garut. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan terkait pengembangan produk, pengetahuan bisnis dan keterampilan manajemen untuk meningkatkan kegiatan ekspor di industri penyamakan kulit Garut. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mempertimbangkan kemampuan kewirausahaan manajemen sebagai faktor yang dapat menghambat ekspor.