digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Cover.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Bab 1.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Bab 2.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Bab 3.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Bab 4.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Pustaka.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2022 TA PP FEBRIANA DWI AMBARWATI 1-Lampiran.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

Gempa bumi merupakan bencana alam yang sifatnya merusak khususnya pada bangunan. Salah satu gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia adalah gempa Yogyakarta 2006. Gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006 pada pukul 5:53 waktu setempat dengan kekuatan Mw 6.3 menyebabkan kerugian ekonomi dan properti. Kerugian akibat Gempa Yogyakarta 2006 ditaksir mencapai mencapai 29,1 Triliun rupiah. Salah satu sektor yang mengalami kerugian ekonomi secara langsung akibat gempa bumi yaitu sektor rumah tinggal. Besarnya kerugian pada bangunan disebabkan karena kegagalan konstruksi. Untuk membentuk penanggulangan bencana yang baik diperlukan suatu skema pembiayaan bencana yang tepat. Penilaian kerugian pada bangunan rumah tinggal menjadi salah satu bagian dari penentuan pembiayaan, sehingga pembiayaan dapat efektif dan sesuai. Oleh karena itu, dilakukan proses perhitungan dengan menggunakan metode Scenario Based Loss Assesment dengan menggunakan Gempa Yogyakarta 2006 sebagai sumber bencana (hazard), model kerentanan (vulnerability), dan data rumah tinggal tahun 2018 (exposure) untuk menentukan risiko kerugian struktural bangunan rumah tinggal pada bencana Gempa Yogyakarta 2006 dengan melibatkan jenis bangunan sebagai bentuk penilaian. Berdasarkan proses perhitungan didapatkan bahwa risiko kerugian bangunan rumah tinggal mencapai Rp 27.598.411.712.684 dengan kecamatan yang memiliki kerugian tertinggi adalah Kecamatan Depok di Kabupaten Sleman dan kerugian di dominasi oleh 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.