Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi banjir rob, kenaikan muka air
laut, serta cuaca ekstrem di kawasan pesisir perkotaan. Di Jakarta Utara, tekanan
ekologis tersebut berinteraksi dengan ketimpangan sosial, keterbatasan infrastruktur,
dan sejarah marginalisasi ruang, sehingga permukiman informal menjadi kelompok
yang paling rentan. Kampung Susun Akuarium merupakan hasil transformasi dari
permukiman informal horizontal menjadi hunian vertikal berbasis komunitas pasca
penggusuran, yang dirancang melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif.
Transformasi ini menghadirkan konteks unik untuk menganalisis bagaimana resiliensi
permukiman tidak hanya dibentuk oleh intervensi fisik, tetapi juga oleh dinamika
sosial, kearifan lokal, dan kelembagaan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis bentuk kerentanan yang dihadapi komunitas Kampung Susun Akuarium,
mengidentifikasi strategi adaptasi yang berkembang, serta merumuskan model
konseptual resiliensi permukiman informal berbasis kearifan lokal dalam konteks
perubahan iklim pesisir perkotaan.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam dan semi-terstruktur terhadap warga, tokoh
masyarakat, pengelola kampung susun, lembaga pendamping, serta perwakilan
pemerintah daerah, disertai observasi partisipatif dan studi dokumentasi kebijakan.
Analisis dilakukan melalui tahapan deskriptif untuk memetakan kerentanan fisik dan
sosial-ekonomi, analisis tematik untuk mengidentifikasi pola adaptasi dan praktik
kolektif, serta analisis interpretatif untuk mengaitkan temuan empiris dengan kerangka
teori perubahan iklim, kerentanan sosial-ekonomi, urban resilience, kearifan lokal, dan
kelembagaan adaptasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan di Kampung Susun Akuarium tidak
semata ditentukan oleh tingkat paparan bahaya fisik, tetapi merupakan hasil interaksi
antara ancaman lingkungan, sensitivitas sosial-ekonomi, dan kapasitas adaptifii
komunitas. Transformasi menjadi hunian vertikal memang meningkatkan kualitas fisik
bangunan dan keamanan bermukim, namun pada saat yang sama memunculkan bentuk
kerentanan baru, seperti tekanan ekonomi akibat sistem pengelolaan hunian, perubahan
pola penghidupan, serta tantangan adaptasi kelompok rentan terhadap struktur ruang
vertikal. Temuan ini memperkuat argumen bahwa kerentanan bersifat
multidimensional dan dinamis, tidak berhenti pada aspek spasial-fisik.
Strategi adaptasi yang berkembang bersifat kolektif dan terlembagakan secara sosial.
Adaptasi fisik seperti pengelolaan drainase internal dan penataan ruang komunal
berfungsi sebagai lapisan perlindungan awal, namun resiliensi jangka panjang terutama
ditopang oleh infrastruktur sosial. Praktik gotong royong, musyawarah warga, sistem
pengelolaan berbasis koperasi, serta koordinasi melalui struktur RT menunjukkan
bahwa kearifan lokal berfungsi sebagai mekanisme pengorganisasian risiko. Dalam
konteks ini, kearifan lokal tidak dipahami sebagai tradisi statis, melainkan sebagai
sistem nilai dan praktik yang terus bertransformasi sesuai dengan perubahan
lingkungan dan tata kelola hunian.
Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi permukiman informal
pasca relokasi terbentuk melalui integrasi tiga dimensi utama: (1) peningkatan kualitas
fisik hunian sebagai basis reduksi paparan risiko, (2) penguatan pranata sosial sebagai
fondasi kapasitas adaptif, dan (3) dukungan kelembagaan yang mengakui partisipasi
dan hak bermukim warga. Interaksi ketiga dimensi tersebut membentuk model
resiliensi hibrida yang menggabungkan pendekatan bottom-up berbasis komunitas
dengan dukungan top-down dari institusi formal. Temuan ini memperluas pemahaman
urban resilience dengan menempatkan transformasi sosial pasca relokasi sebagai
bagian dari proses adaptasi iklim, bukan sekadar hasil penataan fisik.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Susun Akuarium merepresentasikan
bentuk resiliensi kontekstual yang lahir dari negosiasi antara tekanan iklim,
rekonstruksi sosial pasca penggusuran, dan inovasi kelembagaan berbasis komunitas.
Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada penguatan perspektif bahwa resiliensi
permukiman informal di kawasan pesisir perkotaan tidak dapat direduksi menjadi
intervensi teknis-infrastruktur semata, melainkan harus dipahami sebagai proses
transformasi sosial-ekologis yang berakar pada kearifan lokal dan tata kelola
partisipatif. Model konseptual yang dihasilkan memberikan landasan analitis bagi
pengembangan perencanaan perumahan pesisir yang lebih inklusif, adaptif, dan
berkelanjutan, dengan menempatkan komunitas sebagai aktor utama dalam
pembangunan resiliensi.
Perpustakaan Digital ITB