Penelitian ini mengkaji pengaruh modal sosial dalam pengambilan keputusan
evakuasi tsunami pada masyarakat pesisir Desa Galala. Desa Galala telah diakui
Tsunami Ready oleh UNESCO–IOC melalui pemenuhan 12 indikator
kesiapsiagaan, yang menandai kematangan kapasitas prabencana komunitas.
Namun pengakuan formal sebagai wilayah Tsunami Ready tidak serta-merta
menjamin efektivitas respons masyarakat dalam situasi nyata.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan pemgumpulan data
primer melalui wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan telaah
dokumen kemudian analisis dengan metode grounded theory.
Hasil menunjukkan bahwa input berupa kesiapsiagaan berbasis partisipasi dan
solidaritas komunitas, termasuk jejaring kepercayaan, praktik gotong royong, dan
pengalaman simulasi menjadi fondasi prabencana. Pada process, keputusan
dibentuk oleh tiga mekanisme yang saling menguatkan: (i) kepatuhan terhadap
arahan tim siaga bencana desa yang berlandaskan legitimasi lokal; (ii) proses
evakuasi keluarga yang dipicu emosi protektif dan dibingkai norma sosial
(persuasi,otoritatif); dan (iii) pengambilan Keputusan evakuasi karena di dorong
oleh nilai nilai praktik/ritual keagamaan serta memori kolektif. Output yang
dihasilkan ialah evakuasi kolektif yang cepat dan tertib, termasuk kepatuhan rute
dan dukungan antartetangga.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan evakuasi di Desa
Galala tidak semata ditentukan oleh faktor struktural dan informasi formal,
melainkan secara kuat dibentuk oleh modal sosial yang mencakup dimensi afektifii
kolektif. Modal sosial yang terejawantahkan melalui jejaring bonding, bridging,
dan linking berfungsi sebagai mekanisme aktif yang memfasilitasi penyebaran
informasi, memperkuat legitimasi keputusan, dan mengonsolidasikan tindakan
kolektif saat darurat.
Dimensi afektif dalam modal sosial, yang bersumber dari pengalaman traumatis
masa lalu, memori kolektif, kasih sayang keluarga, serta kepercayaan spiritual,
menjadi energi sosial yang menghidupkan jaringan lintas generasi untuk bertindak
cepat dan saling menolong. Dengan demikian, keputusan evakuasi di Desa Galala
lahir dari interaksi erat antara struktur jejaring sosial dan daya afektif yang tertanam
di dalamnya, menjadikan modal sosial sebagai fondasi kunci dalam kesiapsiagaan
dan resiliensi bencana.
Perpustakaan Digital ITB