digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengkaji pengaruh modal sosial dalam pengambilan keputusan evakuasi tsunami pada masyarakat pesisir Desa Galala. Desa Galala telah diakui Tsunami Ready oleh UNESCO–IOC melalui pemenuhan 12 indikator kesiapsiagaan, yang menandai kematangan kapasitas prabencana komunitas. Namun pengakuan formal sebagai wilayah Tsunami Ready tidak serta-merta menjamin efektivitas respons masyarakat dalam situasi nyata. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan pemgumpulan data primer melalui wawancara semi terstruktur, observasi lapangan, dan telaah dokumen kemudian analisis dengan metode grounded theory. Hasil menunjukkan bahwa input berupa kesiapsiagaan berbasis partisipasi dan solidaritas komunitas, termasuk jejaring kepercayaan, praktik gotong royong, dan pengalaman simulasi menjadi fondasi prabencana. Pada process, keputusan dibentuk oleh tiga mekanisme yang saling menguatkan: (i) kepatuhan terhadap arahan tim siaga bencana desa yang berlandaskan legitimasi lokal; (ii) proses evakuasi keluarga yang dipicu emosi protektif dan dibingkai norma sosial (persuasi,otoritatif); dan (iii) pengambilan Keputusan evakuasi karena di dorong oleh nilai nilai praktik/ritual keagamaan serta memori kolektif. Output yang dihasilkan ialah evakuasi kolektif yang cepat dan tertib, termasuk kepatuhan rute dan dukungan antartetangga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan evakuasi di Desa Galala tidak semata ditentukan oleh faktor struktural dan informasi formal, melainkan secara kuat dibentuk oleh modal sosial yang mencakup dimensi afektifii kolektif. Modal sosial yang terejawantahkan melalui jejaring bonding, bridging, dan linking berfungsi sebagai mekanisme aktif yang memfasilitasi penyebaran informasi, memperkuat legitimasi keputusan, dan mengonsolidasikan tindakan kolektif saat darurat. Dimensi afektif dalam modal sosial, yang bersumber dari pengalaman traumatis masa lalu, memori kolektif, kasih sayang keluarga, serta kepercayaan spiritual, menjadi energi sosial yang menghidupkan jaringan lintas generasi untuk bertindak cepat dan saling menolong. Dengan demikian, keputusan evakuasi di Desa Galala lahir dari interaksi erat antara struktur jejaring sosial dan daya afektif yang tertanam di dalamnya, menjadikan modal sosial sebagai fondasi kunci dalam kesiapsiagaan dan resiliensi bencana.