digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Dalam pelayanan kesehatan, waktu tunggu rawat jalan biasanya dilihat sebagai indikator kualitas layanan dan pengurangan waktu tunggu pasien rawat jalan telah menjadi subyek dari sejumlah besar penelitian. Salah satu indikator yang digunakan Rumah Sakit XYZ sebagai ukuran kepuasan pasien adalah Length of Stay (LOS). Dalam studi kasus ini, LOS didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan seorang pasien untuk menerima pelayanan rawat jalan di rumah sakit, yaitu sejak mendaftar hingga pulang dari rumah sakit. Kepmenkes no. 129 (2008) tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit menyatakan bahwa lama waktu tunggu pasien dalam pelayanan rawat jalan rumah sakit tidak boleh lebih dari 60 menit dan rumah sakit XYZ memiliki standar yaitu 90 menit. Studi pendahuluan mengungkapkan bahwa rata-rata LOS pasien BPJS adalah 152,27 menit dengan 76% dari total sampel melebihi standar yang ditetapkan dan rata-rata LOS untuk pasien Eksekutif sebesar 68,58 menit dengan 16,8% melebihi standar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapabilitas proses secara detail untuk menurunkan LOS hingga mencapai standar yang ditetapkan. Metodologi DMAIC digunakan sebagai alat bantu dikombinasikan dengan pemetaan proses, Seven Wastes, dan Five Whys untuk membantu root-cause analysis. Analisis kapabilitas proses menunjukkan bahwa proses tidak mampu dengan overall capability Ppk = -0,27 (Pasien BPJS) dan PpK = 0,28 (Pasien Eksekutif) mengacu pada standar industri 1,33. Proses rawat jalan terdiri dari lima proses yaitu; pendaftaran di Front Office (FO), pemeriksaan di Nurse Station (NS), pemeriksaan dokter, pembayaran di kasir, dan pelayanan di apotek. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kemungkinan bottleneck ada di Front Office dan apotek pasien BPJS. Dengan menggunakan pemetaan proses BPMN, pemborosan dan inefisiensi dapat diketahui. Root-causes yang teridentifikasi adalah; ketidakefisienan sistem penjadwalan janji temu yang ada, sumber daya yang terbatas, dan pendaftaran online mandiri yang belum didukung. Discrete-event simulation digunakan untuk melakukan analisis ke beberapa skenario. Analisis skenario bila dibandingkan menunjukkan bahwa skenario terbaik akan melibatkan usaha dalam mengoptimalkan kedatangan terjadwal, penyesuaian jam pendaftaran FO, dan menghilangkan keterlambatan proses pemeriksaan. Ketika penambahan sumber daya dipertimbangkan, penambahan 2 apoteker (total 7) ke skenario kedatangan terjadwal sudah cukup untuk membawa semua LOS memenuhi standar rumah sakit. Keputusan yang melibatkan kedatangan terjadwal yang dioptimalkan memiliki dampak paling signifikan terhadap lama tinggal pasien dalam proses rawat jalan. Implementasi yang disarankan untuk hal ini meliputi kegiatan yang berkaitan dengan membuat analisis dan penilaian lebih lanjut terhadap sistem pembukuan appointment, membangun target dan ukuran kinerja atas appointment scheduling dan kinerja LOS, dan menegakkan sosialisasi dan pendidikan terhadap pasien sebelum masa uji coba sistem yang dioptimalkan. Dengan meningkatkan usaha dalam menerapkan solusi yang disarankan, diharapkan waktu tunggu pasien akan mengalami peningkatan.